JAKARTA — Bitcoin, aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar, kembali melemah setelah sempat menembus level di atas US$69.000 pada Rabu. Pada Jumat (27/2), harga bitcoin turun lebih dari 3% ke kisaran US$65.000, seiring pelemahan pasar saham dan kenaikan harga emas sebesar 1,4%.
Sejalan dengan pergerakan tersebut, indeks saham utama di Amerika Serikat juga bergerak turun. Indeks S&P 500 melemah 0,7% dan Nasdaq turun 1,15% sejak pembukaan perdagangan di New York pada Jumat.
Saat artikel ini ditulis, bitcoin diperdagangkan di level US$65.222. Berdasarkan data agregator harga kripto CoinGecko, posisi ini membuat bitcoin turun 3,5% dibandingkan periode yang sama sepekan sebelumnya.
Pergerakan harga bitcoin dalam sepekan terakhir tergolong bergejolak. Tekanan dimulai dari aksi jual pada Senin, lalu berlanjut di pertengahan pekan ketika tarif global 10% Presiden Donald Trump mulai diberlakukan. Sempat muncul jeda penguatan singkat ketika laporan kinerja Nvidia membantu menstabilkan saham teknologi dan pasar kripto.
Analis dari bursa kripto Bitbank menilai dorongan kenaikan mulai kehilangan tenaga setelah bitcoin menyentuh level psikologis US$70.000. Mereka menyebut, sejak Kamis, tanpa katalis baru, bitcoin cenderung bergerak dalam rentang sempit di area pertengahan hingga atas US$60.000.
Pelemahan juga terjadi pada aset kripto utama lainnya. Ethereum turun lebih dari 5% ke US$1.918, XRP melemah sekitar 4% ke US$1,35, dan Solana merosot lebih dari 5% ke US$81,50.
Tekanan makroekonomi dinilai memperparah kondisi pasar kripto yang sedang rapuh. Analis pasar utama FxPro, Alex Kuptsikevich, menjelaskan penurunan harga pada awalnya dipicu rendahnya likuiditas yang memunculkan efek berantai stop order ketika harga menembus level support lokal.
Di sisi lain, ketegangan geopolitik disebut terus membayangi pergerakan harga kripto dan emas. Co-founder Orbit Markets, Caroline Mauron, menilai pasar saat ini sangat rentan karena dibebani ketidakpastian makro, mulai dari tensi geopolitik di Iran hingga perubahan mendadak kebijakan tarif AS.
Dampak sentimen tersebut juga terlihat pada arus modal institusional. Belasan ETF bitcoin spot di AS tercatat mengalami arus keluar bersih selama lima minggu berturut-turut, dengan total penarikan mencapai US$3,8 miliar. Rentetan ini menjadi yang terpanjang sejak Februari tahun lalu.
Selain faktor tarif dan geopolitik, CEO Koinly, Robin Singh, menilai bitcoin saat ini memerlukan narasi baru untuk mendorong harga. Ia mencontohkan bahwa optimisme terkait regulasi US Clarity Act tidak mampu mengerek harga secara signifikan.
Ke depan, pelaku pasar memantau level-level kunci pergerakan harga. Analis BTC Markets, Rachael Lucas, menyebut US$65.000 sebagai level support utama. Jika harga menembus di bawah area tersebut, ia menilai ada risiko penurunan menuju US$60.000.
Data dari bursa derivatif Deribit juga menunjukkan posisi perlindungan risiko penurunan saat ini terkonsentrasi di level US$60.000. Sementara itu, kubu yang optimistis menilai bitcoin perlu merebut kembali level US$70.000 untuk mengubah arah tren pasar.

