Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat sektor energi dan barang konsumen menjadi penopang utama pasar saham syariah di Indonesia sepanjang 2025. Dominasi kedua sektor tersebut terlihat dari komposisi jumlah saham maupun kapitalisasi pasar (market cap), meski urutannya berbeda pada masing-masing indikator.
Kepala Divisi Pasar Modal Syariah BEI, Irwan Abdalloh, menjelaskan bahwa jika dilihat dari jumlah saham, sektor barang konsumen non-primer menjadi yang terbesar dengan pangsa 18% dari total saham syariah yang tercatat di bursa. Di bawahnya, sektor barang konsumen primer, barang baku, energi, serta properti masuk dalam lima besar dengan porsi masing-masing di atas 10%.
Namun, peta kekuatan berubah ketika dihitung berdasarkan kapitalisasi pasar. Irwan menyebut sektor energi menempati posisi teratas dari sisi market cap, disusul sektor barang baku, infrastruktur, barang konsumen primer, serta properti dan real estat.
Irwan menilai perbedaan tersebut menjadi pertimbangan bagi investor yang ingin berinvestasi pada saham syariah, terutama jika fokusnya pada ukuran sektor berdasarkan kapitalisasi pasar maupun jumlah saham yang tersedia.
Dalam kesempatan yang sama, BEI juga melaporkan pertumbuhan jumlah investor syariah sepanjang 2025 yang mencapai 217.157 investor, meningkat 28% secara tahunan. Nilai transaksi pada periode yang sama tercatat sebesar Rp11,2 triliun.
Selain jumlah investor, tingkat partisipasi investor juga meningkat. Investor aktif sepanjang 2025 tercatat sebanyak 43.135, tumbuh 34% secara year-on-year, dengan frekuensi transaksi mencapai 30,6 miliar saham.
Paparan tersebut disampaikan Irwan dalam diskusi bertajuk “Pasar Modal Syariah: Menuju 15 Tahun Kebangkitan Pasar Modal Syariah Indonesia” pada Kamis (26/2/2026).

