Analis Utama Ekonomi Politik Lab 45, Radhityana Muhammad, menilai stabilitas ekonomi makro Indonesia masih terjaga dalam setahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Penilaian itu disampaikan dalam media briefing bertajuk “Satu Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran” di Morrissey Hotel, Jalan KH. Wahid Hasyim, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu, 22 Oktober 2025.
Radhityana menyebut sejumlah indikator menunjukkan kondisi makroekonomi relatif stabil. Pertumbuhan ekonomi pada Kuartal II (Q2) 2025 tercatat 5,12 persen, lebih tinggi dari titik kritis 4,73 persen.
Dari sisi harga, inflasi per September 2025 berada di angka 2,65 persen dan dinilai masih terkendali karena berada dalam rentang 1,5–3,5 persen. Ia juga menyoroti tingkat pengangguran yang disebut terus menurun sejak masa pandemi Covid-19, dengan angka 4,76 persen per Februari 2025.
Di pasar keuangan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat ke level 8.118,3 yang disebut mencerminkan sentimen pasar yang cukup optimistis. Sementara itu, harga minyak bumi berada di kisaran 60,88 dolar Amerika Serikat (USD), jauh di bawah angka kritis 90,2 USD.
Nilai tukar rupiah terhadap USD juga dinilai masih stabil, dengan rata-rata Rp16.611, meskipun berada sedikit di bawah angka kritis Rp17.710. “Kondisi dari variabel-variabel kondisi makro ekonomi masih berada di luar dari titik kritis itu. Jadi untuk kondisi makro ini masih relatif aman,” ujar Radhityana.
Namun, ia menilai gambaran berbeda terlihat pada kondisi mikroekonomi. Radhityana menyoroti angka pemutusan hubungan kerja (PHK) yang cukup tinggi selama setahun pemerintahan Presiden Prabowo.
Menurutnya, data Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mencatat PHK hingga 67 ribu orang. Sementara data Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) menunjukkan angka lebih tinggi, yakni mencapai 150 ribu pekerja.
Radhityana menilai kondisi mikro tersebut berkaitan dengan daya beli masyarakat. Ia menambahkan, tren indeks survei konsumen di Indonesia sejak Oktober tahun lalu hingga Oktober tahun ini disebut melemah, yang menurutnya turut berkaitan dengan dinamika PHK. “Kondisi mikro ekonomi ini sebenarnya menggambarkan daya beli masyarakat juga sebenarnya, terjadi PHK itu juga tergantung dari kalau kita lihat indeks survei konsumennya dari Indonesia sejak Oktober tahun lalu sampai Oktober tahun ini yang trennya melemah,” katanya.

