Zoho Corporation berencana memperluas jaringan pusat data (data center) ke sejumlah negara, menyusul peluncuran dua pusat data baru di Uni Emirat Arab (UEA), masing-masing di Dubai dan Abu Dhabi. Perusahaan teknologi yang berbasis di Chennai, India, itu menyatakan ekspansi tersebut menjadi bagian dari investasi senilai AED 100 juta di UEA sejak 2023.
CEO ManageEngine, Rajesh Ganesan, mengatakan fokus pengembangan pusat data pada 2025 diarahkan ke kawasan Timur Tengah dan Asia Tenggara. Pada tahap berikutnya, Zoho juga mempertimbangkan ekspansi ke Afrika dan Amerika Latin. “Kami akan membangun data center di negara dengan pertumbuhan dan kebutuhan paling kuat,” kata Rajesh.
Rajesh menjelaskan, keputusan membangun pusat data membutuhkan berbagai pertimbangan, mulai dari potensi pertumbuhan pasar, regulasi, kepatutan data, hingga kebutuhan pelanggan lokal. Menurutnya, pendekatan ini sejalan dengan filosofi perusahaan: “global vision, local execution.”
Terkait Indonesia, Rajesh menyebut belum ada rencana detail untuk pembangunan pusat data. Meski begitu, Indonesia disebut sudah masuk dalam daftar rencana ekspansi. “Indonesia ada dalam daftar rencana kami tapi kami belum bisa mengumumkan secara pasti,” ujarnya.
Zoho menegaskan pembangunan pusat data dilakukan dengan membangun dari nol, bukan sekadar menyewa infrastruktur cloud pihak ketiga. Perusahaan ingin mempertahankan kendali penuh karena seluruh perangkat lunak dikembangkan sendiri oleh Zoho dan ManageEngine.
Rajesh menilai pembangunan pusat data memerlukan waktu panjang dan keahlian tinggi, namun memberikan kontrol lebih besar atas keamanan dan privasi. Ia menambahkan, tantangan pembangunan tidak hanya terkait pendanaan, tetapi juga ketersediaan energi dan tenaga ahli.
Meski demikian, Zoho menyatakan akan bersikap realistis. Pembangunan pusat data hanya dilakukan bila kebutuhan pasar memadai, secara ekonomi layak, serta didukung kesiapan regulasi.
Zoho mencontohkan proses di Arab Saudi yang memerlukan waktu cukup panjang, terutama karena dialog dengan regulator setempat. Perusahaan menyebut akan melangkah hati-hati dan menegaskan komitmen untuk mematuhi aturan lokal.
Co-Founder dan CEO Zoho Corporation, Shailesh Davey, menyatakan langkah perusahaan di UEA ditujukan untuk mendukung penyimpanan data secara lokal dan agenda keamanan siber nasional. “Melalui langkah ini, Zoho Corporation memungkinkan bisnis untuk menyimpan data mereka secara lokal, memperkuat kedaulatan data, serta mendukung Agenda Keamanan Siber Nasional,” katanya.
Dengan tambahan dua fasilitas terbaru di UEA, Zoho kini memiliki total 20 pusat data.

