DENPASAR – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Bali tumbuh 5,82 persen sepanjang 2025 secara q-to-q. Angka ini menjadi pertumbuhan tertinggi dalam tujuh tahun terakhir dan dinilai mencerminkan kembali stabilnya kepercayaan dunia usaha, wisatawan, serta investor.
Kepala BPS Bali Agus Gede Hendrayana mengatakan, pertumbuhan ekonomi Bali pada 2025 didorong oleh kinerja positif seluruh lapangan usaha penyusun Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).
BPS mencatat peningkatan aktivitas pariwisata menjadi faktor utama pendorong pertumbuhan. Sepanjang 2025, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) tumbuh 9,72 persen, sementara perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) meningkat 17,53 persen secara tahunan.
Lonjakan kunjungan tersebut memberi stimulus pada sektor-sektor terkait pariwisata, terutama Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum. Dampaknya juga dirasakan sektor pendukung seperti Perdagangan, Transportasi, Jasa Perusahaan, serta Jasa Hiburan dan Rekreasi.
Menanggapi data tersebut, Ekonom Universitas Hindu Indonesia (UNHI) I Gusti Alit Suputra menilai pertumbuhan ekonomi Bali tahun ini kuat secara struktural karena lebih tinggi dibanding rata-rata nasional. Ia juga menyebut capaian 2025 melampaui kondisi sebelum pandemi, yang berada di kisaran 5,6 persen pada 2019.
“Artinya, ekonomi Bali bukan sekadar pulih, tetapi telah melampaui titik pra-krisis,” kata Suputra.
Ia menambahkan, tren ini menunjukkan pemulihan ekonomi yang konsisten dan berkelanjutan pascapandemi. Menurutnya, sejak 2022 pertumbuhan ekonomi Bali terus meningkat tanpa mengalami kontraksi ulang, sehingga menandakan kepercayaan pelaku usaha, wisatawan, dan investor mulai kembali stabil.
Meski demikian, Suputra mengingatkan tingginya ketergantungan Bali terhadap pariwisata membuat perekonomian daerah rentan terhadap guncangan eksternal, seperti krisis global dan bencana alam. Ia menilai pertumbuhan 5,82 persen kuat dari sisi laju, namun masih moderat dan rentan dari sisi ketahanan struktur ekonomi.
Karena itu, ia menekankan diversifikasi ekonomi menjadi pekerjaan rumah pemerintah. Salah satu langkah yang disorot ialah pengembangan industri berbasis nilai tambah lokal (local value-added industries).
Suputra menilai sektor pertanian, perikanan, dan kerajinan di Bali selama ini masih berada di hulu dengan nilai tambah rendah. Ke depan, pemerintah dinilai perlu mendorong agroindustri, pengolahan hasil laut, serta industri kreatif berbasis budaya dan kearifan lokal.
“Contohnya, kopi, kakao, garam tradisional, produk herbal, dan kerajinan Bali harus naik kelas dari sekadar bahan mentah menjadi produk premium berorientasi ekspor dan pariwisata berkualitas,” ujarnya.
Selain itu, ia menyebut penguatan ekonomi kreatif dan digital juga perlu dilakukan melalui perluasan ekosistem startup kreatif, mendorong subsektor film, animasi, desain, musik, dan konten digital, serta memanfaatkan Bali sebagai hub pekerja kreatif dan digital nomad.
“Sektor ini tidak membutuhkan industrialisasi berat, tetapi menciptakan lapangan kerja bernilai tinggi dan relatif tahan terhadap krisis fisik seperti pandemi,” kata Suputra.

