JAKARTA — Perkembangan teknologi informasi diperkirakan kian memengaruhi strategi dan operasional dunia usaha pada 2026. Perusahaan dinilai tidak hanya perlu beradaptasi dengan inovasi, tetapi juga mengantisipasi risiko yang muncul seiring meningkatnya ketergantungan pada sistem digital. Fokus tren TI ke depan disebut akan mengarah pada efisiensi operasional, integrasi sistem, pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), serta penguatan keamanan siber sebagai fondasi transformasi digital.
Direktur PT Nusa Network Prakarsa, Edward, menilai 2026 akan menjadi fase penting bagi perusahaan untuk mengevaluasi kesiapan infrastruktur TI. Menurutnya, transformasi digital telah bergeser dari sekadar opsi menjadi kebutuhan strategis agar bisnis tetap kompetitif di tengah perubahan pasar yang cepat.
“Perusahaan tidak bisa lagi hanya mengandalkan sistem IT konvensional. Di tahun 2026, kami melihat tren IT akan semakin mengarah pada sistem yang terintegrasi, scalable, dan aman. Infrastruktur IT yang kuat akan menjadi penentu keberlanjutan bisnis,” ujar Edward.
Salah satu tren yang diprediksi dominan adalah meningkatnya adopsi cloud dan hybrid infrastructure. Banyak perusahaan mulai beralih ke sistem yang lebih fleksibel untuk mendukung mobilitas kerja, integrasi aplikasi, serta efisiensi biaya. Model ini memungkinkan pengelolaan data dan aplikasi dilakukan lebih dinamis tanpa bergantung sepenuhnya pada infrastruktur fisik.
Sejalan dengan itu, pemanfaatan AI diperkirakan semakin meluas di berbagai sektor. Teknologi ini tidak hanya digunakan untuk otomatisasi proses, tetapi juga untuk analisis data, prediksi perilaku pasar, hingga peningkatan pengalaman pelanggan. Edward menekankan, penerapan AI memerlukan dukungan infrastruktur yang tepat agar manfaatnya optimal.
“AI akan menjadi enabler penting dalam transformasi digital. Namun, penerapannya harus didukung oleh sistem yang terintegrasi dan data yang dikelola dengan baik. Tanpa fondasi IT yang kuat, pemanfaatan AI tidak akan optimal,” jelasnya.
Di sisi lain, keamanan siber disebut akan menjadi perhatian utama pelaku usaha. Meningkatnya kasus kebocoran data, serangan ransomware, serta ancaman berbasis AI mendorong perusahaan memperkuat perlindungan jaringan dan data. Edward menyatakan, infrastruktur keamanan tidak lagi bisa diposisikan sebagai pelengkap, melainkan bagian inti dari strategi TI perusahaan.
“Ancaman siber akan semakin kompleks. Oleh karena itu, perusahaan perlu mengimplementasikan sistem keamanan yang menyeluruh, mulai dari firewall, network monitoring, hingga perlindungan endpoint. Pendekatan keamanan yang terintegrasi akan menjadi standar baru,” ujarnya.
Tren lain yang diproyeksikan menguat adalah pemanfaatan data dan otomatisasi untuk mendukung pengambilan keputusan bisnis. Dengan sistem TI yang terintegrasi dan dukungan AI, perusahaan dapat mengolah data secara real-time untuk meningkatkan efisiensi operasional serta memahami kebutuhan pasar dengan lebih akurat. Kondisi ini turut mendorong kebutuhan akan infrastruktur jaringan yang stabil dan andal agar proses bisnis berjalan tanpa hambatan.
Edward juga menyoroti peran system integrator yang dinilai semakin strategis pada 2026. Banyak perusahaan membutuhkan mitra teknologi untuk mengintegrasikan berbagai sistem, aplikasi, cloud platform, hingga solusi AI agar selaras dengan tujuan bisnis.
“System integrator bukan hanya bertugas memasang teknologi, tetapi juga memastikan solusi yang diterapkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan bisnis klien. Pendekatan konsultatif dan pemahaman menyeluruh terhadap proses bisnis menjadi kunci,” tambah Edward.
Dengan sejumlah tren tersebut, perusahaan yang mempersiapkan infrastruktur TI sejak dini dinilai berpeluang memiliki keunggulan kompetitif. Investasi pada teknologi yang tepat—mulai dari cloud, AI, hingga keamanan siber—dipandang dapat membantu bisnis menjadi lebih adaptif, aman, dan efisien dalam menghadapi tantangan mendatang.
PT Nusa Network Prakarsa menyatakan komitmennya untuk mendukung dunia usaha menghadapi dinamika perkembangan teknologi melalui solusi infrastruktur jaringan, keamanan siber, dan integrasi sistem.

