Di tengah padatnya tuntutan akademik dan aktivitas organisasi, sebagian mahasiswa memilih memanfaatkan masa kuliah untuk belajar kemandirian melalui dunia usaha. Salah satunya dilakukan Dedi Mursadi, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) yang merintis warung kopi (warkop) di lingkungan kampus.
Selain berstatus mahasiswa, Dedi juga bekerja sebagai guru dan wasit sepak bola. Ia mengatakan dorongan untuk berbisnis muncul dari keinginan meningkatkan kondisi ekonomi sekaligus menjalankan sunnah Nabi melalui berdagang. Menurutnya, usaha bisa menjadi salah satu cara yang menjanjikan untuk memperbaiki ekonomi dalam waktu lebih cepat.
“Saya melihat teman-teman yang berbisnis, ekonominya lebih mapan. Dengan usia saya sekarang, tentu ingin mempersiapkan masa depan dan meningkatkan ekonomi secara maksimal,” ujarnya.
Berawal dari kebiasaan nongkrong di warkop bersama teman-temannya, Dedi kemudian memutuskan mendirikan Warkop KDM yang mulai beroperasi pada September 2025. Ia mengusung konsep warkop yang ramah untuk semua kalangan, terutama mahasiswa, pelajar, dan anak rantau.
Dedi menekankan pentingnya harga terjangkau agar mahasiswa dan anak kos dapat makan serta minum setiap hari tanpa harus menunggu memiliki uang lebih. Ia menilai, dibanding kafe, harga di warkop lebih memungkinkan bagi mahasiswa atau siswa yang perlu mempertimbangkan kondisi keuangan pribadi.
“Saya ingin warkop yang harganya terjangkau, jadi mahasiswa dan anak kos bisa makan dan minum setiap hari tanpa harus menunggu uang banyak. Jika dibandingkan kafe, tentu pastinya harga lebih mahal dan belum tentu mahasiswa atau siswa dapat makan dan minum setiap hari, karena mempertimbangkan stabilitas keuangan pribadi,” katanya.
Usaha tersebut dirintis secara mandiri dengan memanfaatkan tabungan pribadi dari penghasilan mengajar dan menjadi wasit. Setelah berjalan, ia merekrut empat karyawan untuk membantu operasional harian. Namun, menjalankan usaha di tengah kesibukan kuliah dan pekerjaan disebutnya bukan hal mudah.
Ia mengaku menghadapi berbagai tantangan, mulai dari memikirkan biaya sewa tempat, listrik, gaji karyawan, hingga ide menu baru. “Pikiran sering tidak tenang karena harus memikirkan sewa tempat, listrik, gaji karyawan, sampai ide menu baru,” ungkap Dedi.
Untuk mengatasi keterbatasan waktu dan tenaga, Dedi mulai mendelegasikan sejumlah tugas kepada karyawan yang telah dipercaya. Dari sisi pemasaran, ia rutin mengadakan kegiatan Jumat Berkah, menggelar turnamen seperti catur, serta memanfaatkan media sosial untuk memperkenalkan warkopnya.
“Saya menggunakan Instagram sebagai media untuk menarik konsumen agar mereka mengetahui warkop saya dengan menampilkan pamflet atau konten-konten yang menarik,” jelasnya.
Saat ini, Dedi menyebut omzet Warkop KDM berkisar Rp3 juta hingga Rp5 juta per bulan, bergantung pada cuaca dan aktivitas perkuliahan. Ia juga menyampaikan pesan bagi mahasiswa yang ingin memulai usaha agar siap menghadapi risiko dan terus berinovasi.
“Wirausaha itu harus siap rugi, siap capek, dan terus belajar. Yang penting riset tempat yang stratergis dan kenali kebutuhan konsumen,” ujarnya.

