Yudhoyono Dialogue Forum (YDF) 2026 digelar sebagai ruang dialog lintas sektor untuk membahas arah pembangunan ekonomi Indonesia di tengah transformasi ekonomi global yang kian kompleks. Forum yang diselenggarakan The Yudhoyono Institute (TSI) ini berlangsung di Auditorium Museum dan Galeri SBY ANI, Pacitan, Jawa Timur, Jumat (6/2/2026), dengan tema “New Economy, New Road to Prosperity”.
Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya hadir dalam forum tersebut dan menegaskan posisi strategis ekonomi kreatif dalam lanskap ekonomi baru Indonesia. Ia menyebut dialog konstruktif diperlukan untuk merespons tantangan global, mulai dari disrupsi teknologi, perubahan iklim, hingga pergeseran rantai pasok dunia.
Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) selaku Chairman The Yudhoyono Institute mengatakan Yudhoyono Dialogue Forum dirancang sebagai kontribusi pemikiran bagi pemerintah dan publik melalui budaya dialog yang terbuka dan inklusif. Menurut SBY, transformasi ekonomi perlu bertumpu pada refleksi pengalaman masa lalu, kondisi saat ini, dan visi masa depan.
SBY mengajak para pemangku kepentingan untuk memikirkan model ekonomi yang paling relevan bagi Indonesia, termasuk arah kebijakan yang mampu menjawab tantangan hari ini sekaligus mempersiapkan masa depan. Ia menekankan forum ini menjadi ruang untuk membicarakan perjalanan ekonomi Indonesia dari “yesterday, today, and tomorrow”.
Dalam diskusi, Teuku Riefky menyoroti ekonomi kreatif sebagai salah satu pilar penting transformasi ekonomi nasional. Ia menyampaikan bahwa negara-negara yang berhasil mengembangkan ekonomi kreatif umumnya memiliki fondasi budaya yang kuat, dan Indonesia dinilai memiliki keunggulan melalui kekayaan tradisi, seni, serta kreativitas lokal yang beragam.
Ia juga mengingatkan bahwa sejak ekonomi kreatif pertama kali diangkat menjadi nomenklatur kementerian pada 2011, sektor ini diproyeksikan sebagai mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional. Menurutnya, harapan tersebut kini semakin nyata dengan hadirnya Kementerian Ekonomi Kreatif yang secara khusus bertugas mengembangkan potensi ekonomi kreatif agar dapat menjadi alternatif “new engine of growth” di tengah perubahan struktur ekonomi global.
YDF 2026 menghadirkan dua sesi utama, yakni New Economy for Prosperity and Sustainability serta The Role of Technology in New Economy. Diskusi melibatkan akademisi, pelaku usaha, pembuat kebijakan, hingga pemikir strategis yang membahas keterkaitan pertumbuhan ekonomi, pemanfaatan teknologi, transisi energi, serta prinsip keberlanjutan.
Salah satu narasumber, Rektor Perbanas Institute Hermanto Siregar, menilai ekonomi kreatif layak disebut sebagai mesin pertumbuhan baru. Berdasarkan kajian akademik yang disampaikannya, kontribusi ekonomi kreatif terhadap output dan produktivitas dinilai setara dengan peran institusi dan teknologi. Namun, ia menekankan pengembangan sektor ini memerlukan dukungan permodalan yang tepat sasaran sesuai karakter masing-masing subsektor.
Forum juga menyoroti pentingnya integrasi antara pertumbuhan ekonomi, inovasi teknologi, dan keberlanjutan lingkungan sebagai satu kesatuan strategi pembangunan nasional. Pendekatan ini dinilai krusial untuk memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian global sekaligus memastikan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.
Selain sesi diskusi, YDF 2026 dilengkapi forum berbagi pengalaman bersama tokoh-tokoh bisnis nasional yang membahas dinamika pengelolaan ekonomi di tengah perubahan global. Melalui format dialog terbuka, forum ini diharapkan melahirkan gagasan strategis yang aplikatif dan relevan bagi perumusan kebijakan publik ke depan.
Sejumlah tokoh nasional turut hadir, antara lain Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara, Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono, Wakil Menteri Ketenagakerjaan Afriansyah Noor, Wakil Menteri ATR/BPN Ossy Dermawan, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak, Chairman CT Corp Chairul Tanjung, Presiden Direktur PT DCI Indonesia Otto Toto Sugiri, Direktur Eksekutif CSIS Yose Rizal Damuri, Ketua Majelis Wali Amanat ITS Mohammad Nuh, serta Ketua Dewan Pembina The Habibie Center Ilham Akbar Habibie. Teuku Riefky hadir didampingi Direktur Kajian dan Manajemen Strategis Agus Syarip Hidayat.

