BERITA TERKINI
Ekspor Mebel Tertekan Ekonomi Global, Industri Mulai Mengandalkan Pasar Domestik

Ekspor Mebel Tertekan Ekonomi Global, Industri Mulai Mengandalkan Pasar Domestik

Pelaku industri permebelan dan kerajinan nasional mengaku sedang menghadapi tekanan ekonomi global yang berdampak pada kinerja perdagangan internasional. Kondisi tersebut membuat upaya pemulihan ekspor menjadi tantangan besar dalam beberapa tahun terakhir.

Ketua Umum Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Dedy Rochimat mengatakan pihaknya berupaya membalikkan tren penurunan ekspor. Pernyataan itu disampaikan di sela Rapat Kerja Nasional (Rakernas) di Yogyakarta, Jumat, 6 Februari 2026.

Dedy memaparkan, sejak 2020 hingga November 2025 nilai ekspor nasional sektor permebelan tercatat mengalami kontraksi 1,3 persen. Pada saat yang sama, impor produk sejenis ke pasar domestik justru meningkat 6,4 persen.

Menurut Dedy, tekanan ekspor awalnya dipicu pelemahan ekonomi di negara tujuan utama seperti Amerika Serikat dan Eropa. Namun belakangan situasi dinilai semakin berat karena dinamika geopolitik global, ancaman tarif impor baru dari Amerika Serikat, serta tingginya biaya logistik yang masih menjadi hambatan bagi pelaku usaha.

Dalam situasi tersebut, sebagian pelaku industri mulai menggeser fokus ke pasar domestik yang dinilai lebih menjanjikan. Dedy menilai penurunan ekspor ini perlu mendapat perhatian, terutama dari pemerintah, selain dari kalangan industri.

Ia menekankan industri mebel dan kerajinan memiliki potensi besar, baik dari sisi serapan tenaga kerja maupun ketersediaan bahan baku alami seperti jati dan rotan. Namun, menurutnya, potensi itu tidak akan optimal tanpa perubahan strategi kebijakan yang mampu merespons tekanan global secara kolektif.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Bidang Industri Kreatif Kadin DIY Agus Imron mengatakan pemanfaatan pameran internasional tetap relevan di tengah tekanan ekonomi yang berdampak pada ekspor. Ia menyebut asosiasi selama ini memiliki dua agenda pameran yang menyasar pasar nasional dan internasional, yakni Indonesia International Furniture & Craft Fair (IFFINA) dan Jogja International Furniture & Craft Fair Indonesia (JIFFINA).

Menurut Agus, pameran tetap dibutuhkan karena menjadi etalase utama bagi produk industri. Ia menilai, meski pasar tradisional seperti Amerika Serikat dan Eropa sedang tertekan, Indonesia masih memiliki peluang melalui diversifikasi pasar ke negara lain seperti Jepang dan Jerman, serta memperkuat nilai tambah pada produk ramah lingkungan yang tengah menjadi tren global.

Agus juga menyampaikan, di tengah tekanan ekonomi global, pelaku ekspor di Yogyakarta—terutama sektor industri mebel kayu dan kerajinan tangan—saat ini menempati posisi kedua. Ia menyatakan optimisme bahwa dengan dukungan pameran dan penguatan ekosistem industri, produk furnitur Indonesia tetap dapat bertahan di tingkat global.