Pasar saham Amerika Serikat ditutup melemah pada perdagangan Jumat (23/1/2026), menempatkan indeks-indeks utama Wall Street menuju penurunan mingguan untuk dua pekan berturut-turut. Pelemahan dipicu kombinasi sentimen geopolitik yang kembali menekan minat terhadap aset berisiko serta penurunan tajam saham Intel setelah proyeksi kinerja yang mengecewakan.
Tekanan pasar terjadi meski Wall Street sempat bangkit dalam dua sesi sebelumnya, setelah aksi jual tajam di awal pekan. Saat itu, pasar terguncang oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengancam akan mengenakan tarif terhadap negara-negara Eropa terkait isu Greenland. Walaupun ancaman tersebut kemudian dilunakkan, tekanan jual dinilai belum sepenuhnya mereda.
Pada perdagangan Jumat pagi waktu setempat, indeks Dow Jones Industrial Average turun 320,71 poin atau 0,65% ke level 49.063,30. Indeks S&P 500 melemah 14,68 poin atau 0,21% ke posisi 6.898,78, sementara Nasdaq Composite turun 36,50 poin atau 0,16% ke level 23.399,52. Dengan pergerakan tersebut, ketiga indeks utama diperkirakan menutup pekan ini di zona merah.
Salah satu penekan utama pasar adalah saham Intel yang anjlok hampir 15% dalam satu hari. Produsen chip itu memproyeksikan pendapatan dan laba kuartalan di bawah ekspektasi pasar. Intel juga mengakui masih menghadapi tantangan dalam memenuhi permintaan chip server untuk pusat data kecerdasan buatan (AI). Penurunan ini menjadi koreksi yang signifikan mengingat sejak awal tahun saham Intel telah melonjak sekitar 50%.
Seiring jatuhnya Intel, indeks saham semikonduktor terkoreksi sekitar 1,6%, menjauh dari rekor tertinggi yang sempat dicapai pada sesi sebelumnya. Pada saat yang sama, indeks volatilitas Wall Street (VIX) kembali menguat, mencerminkan meningkatnya kehati-hatian investor.
Chief Market Economist Spartan Capital Securities, Peter Cardillo, menilai pasar saat ini sangat sensitif terhadap proyeksi kinerja emiten. Ia mengatakan musim laporan keuangan sebenarnya cukup baik, namun satu atau dua saham yang memberi panduan kurang positif langsung mendapat tekanan. Menurutnya, proyeksi ke depan kini menjadi jauh lebih penting bagi pelaku pasar. Cardillo menambahkan, investor juga cenderung berhati-hati sambil menanti arah kebijakan bank sentral AS.
Fokus pasar kini beralih ke pertemuan Federal Reserve pekan depan. Bank sentral AS diperkirakan mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5%–3,75%. Namun, perhatian utama investor tertuju pada pernyataan resmi The Fed dan komentar Ketua The Fed Jerome Powell untuk mencari petunjuk kebijakan selanjutnya. Berdasarkan alat FedWatch dari CME Group, pelaku pasar mulai memperkirakan pemangkasan suku bunga pertama akan terjadi pada Juni.
Di tengah pelemahan saham, arus dana kembali mengalir ke aset aman. Harga emas melonjak ke rekor tertinggi, mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap risiko geopolitik dan ketidakpastian kebijakan global.
Pekan depan, perhatian pasar juga akan tertuju pada laporan keuangan saham-saham teknologi raksasa yang dikenal sebagai “Magnificent Seven”, termasuk Apple, Tesla, dan Microsoft. Kinerja serta panduan bisnis mereka dinilai krusial untuk menguji apakah reli pasar saham AS masih memiliki tenaga, terutama di tengah valuasi yang sudah tinggi.
Di sisi lain, pasar saham AS masih ditopang kondisi ekonomi domestik yang relatif solid serta ekspektasi penurunan suku bunga. Sejumlah indeks saham berkapitalisasi kecil dan sektor transportasi bahkan sempat menyentuh rekor tertinggi pada perdagangan Kamis.
Di luar tekanan pasar secara umum, beberapa saham mencatatkan kinerja positif. Nvidia menguat setelah laporan menyebut otoritas China memberi sinyal lampu hijau kepada perusahaan teknologi besar untuk memesan chip AI terbaru Nvidia. Saham perusahaan tambang logam mulia di AS juga menguat seiring lonjakan harga perak yang mendekati rekor tertinggi.
Secara keseluruhan, pasar saham AS masih dibayangi kombinasi faktor geopolitik, laporan keuangan emiten, dan arah kebijakan The Fed. Situasi tersebut membuat investor cenderung lebih selektif dan defensif dalam menyikapi pergerakan pasar ke depan.

