BERITA TERKINI
Vietnam Matangkan Pusat Keuangan Internasional, BlackRock hingga Morgan Stanley Ajukan Sejumlah Rekomendasi

Vietnam Matangkan Pusat Keuangan Internasional, BlackRock hingga Morgan Stanley Ajukan Sejumlah Rekomendasi

Pemerintah Vietnam terus mematangkan rencana pembentukan pusat keuangan internasional yang ditujukan untuk membuka saluran mobilisasi modal secara lebih efektif. Wakil Perdana Menteri Nguyen Hoa Binh menyatakan inisiatif ini diharapkan mendukung transformasi model pertumbuhan dan membantu mewujudkan target pertumbuhan ekonomi 10% atau lebih.

Nguyen Hoa Binh mengatakan kerangka hukum untuk operasional pusat keuangan tersebut telah disempurnakan melalui berbagai kebijakan preferensial, inovatif, dan luar biasa. Ia mendorong pelaku usaha untuk meneliti, menyampaikan rekomendasi kebijakan, serta segera mengambil keputusan menjadi investor perintis. Pemerintah juga memberi prioritas pada perluasan kerja sama di bidang manajemen keuangan dan obligasi pemerintah.

Dalam pertemuan dengan Deutsche Bank, yang telah menjalin kerja sama dengan Vietnam sejak 1972 dan menyediakan layanan kepada 17 lembaga keuangan domestik, Jeffery Margolick selaku Direktur dan Kepala Manajemen serta Pengembangan Produk menegaskan Vietnam merupakan pasar prioritas. Ia menyatakan keinginan untuk memperluas kolaborasi dalam pembiayaan perdagangan, manajemen keuangan korporasi, serta dukungan penerbitan obligasi pemerintah untuk membiayai pembangunan infrastruktur.

Untuk meningkatkan daya tarik pusat keuangan internasional, Deutsche Bank mengusulkan pelonggaran ambang batas peringkat kredit dan mempertimbangkan penyesuaian persyaratan modal wajib. Bank tersebut juga mengusulkan penyediaan rangkaian produk lindung nilai valuta asing bagi klien non-residen, penerapan hukum umum guna meningkatkan transparansi dan kompatibilitas internasional, serta penyempurnaan kerangka hukum untuk depositary receipts agar saluran penghimpunan dana internasional semakin luas.

Sementara itu, Evan Damast, CEO Morgan Stanley, menilai Vietnam sebagai pasar yang berkembang cepat dan berkelanjutan. Morgan Stanley menyatakan akan melanjutkan kerja sama dalam penggalangan dana, IPO, pasar utang, serta manajemen aset alternatif. Perusahaan itu juga merekomendasikan agar Vietnam terus mempromosikan capaian investasinya dan memperkuat infrastruktur keuangan guna memfasilitasi investasi jangka panjang dari dana asing.

Dari pihak BlackRock Group, pengelola aset terbesar di dunia yang memiliki Global Infrastructure Partners (GIP) dengan aset infrastruktur senilai US$200 miliar, CEO Mark Erickson mengapresiasi potensi Vietnam dalam transisi energi dan energi terbarukan. BlackRock merekomendasikan peningkatan transparansi dan perbaikan pengungkapan kebijakan untuk memperkuat likuiditas pasar.

Kelompok tersebut juga mendorong pengembangan infrastruktur pasar modal, termasuk pasar derivatif, tokenisasi aset, dan mekanisme pengelolaan stablecoin, serta penyederhanaan proses pembukaan rekening dan akses bagi investor internasional. Dalam konteks ini, dibutuhkan kerangka hukum yang jelas dan mekanisme pengujian.

Dalam pertemuan terpisah dengan Franklin Templeton Group, Sonal Desai selaku Wakil Presiden Eksekutif dan Kepala Investasi menyampaikan apresiasi atas potensi Vietnam. Ia merekomendasikan pembangunan kerangka hukum yang jelas dan penciptaan lingkungan pengujian terkontrol (sandbox) untuk layanan aset digital.

Franklin Templeton juga menilai Vietnam perlu mengembangkan infrastruktur aset digital yang mendukung investor, seperti dompet digital dan aksesibilitas, serta memanfaatkan teknologi blockchain untuk pembayaran instan guna menghubungkan keuangan tradisional dan aset digital.

Adapun Nathan McCauley, CEO Anchorage Digital—platform aset digital berlisensi federal pertama di Amerika Serikat—menyatakan kesiapan untuk berpartisipasi dalam pusat keuangan internasional melalui kerja sama, usaha patungan, dan transfer teknologi. Ia merekomendasikan agar Vietnam memprioritaskan kerangka hukum untuk sistem perbankan digital sebelum berekspansi ke perbankan ritel.

McCauley juga menyarankan pengakuan stablecoin sebagai metode pembayaran dan penetapan kerangka hukum yang kompatibel secara internasional. Selain itu, ia mendorong pembentukan mekanisme sandbox untuk pembayaran antarbank menggunakan aset digital.

Di bidang tokenisasi aset, salah satu pendiri sekaligus CEO Pendle, Lee Tsun Ngai, menilai Vietnam memiliki tenaga kerja teknik yang terampil dan berpotensi menjadi pasar untuk aset seperti obligasi, ETF, dan kredit swasta. Dengan kehadiran di Hanoi dan jaringan lebih dari 200 klien institusional, Pendle mengusulkan pembentukan model sandbox untuk aset digital, baik yang tidak berlisensi maupun berlisensi, guna mengidentifikasi jenis aset yang paling sesuai dengan kebutuhan spesifik.

Menanggapi berbagai masukan tersebut, Wakil Perdana Menteri Nguyen Hoa Binh menegaskan kerangka hukum dan operasional akan terus ditingkatkan. Ia menyatakan komitmen Vietnam untuk menciptakan lingkungan investasi yang stabil, transparan, dan menguntungkan.

Pemerintah, menurutnya, akan menerapkan mekanisme sandbox secara tegas untuk menguji model dan produk inovatif di pusat-pusat keuangan internasional. Langkah ini ditujukan untuk menciptakan kondisi agar para mitra dapat memanfaatkan kekuatan mereka dalam modal, teknologi, dan pengalaman manajemen, sekaligus membangun ekosistem keuangan modern yang aman dan terhubung secara mendalam dengan dunia.