Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) sebagai Badan Layanan Umum (BLU) di bawah Kementerian Keuangan menegaskan komitmennya meningkatkan kapasitas dan kesejahteraan petani sawit di Indonesia. Upaya ini disebut sejalan dengan penguatan peran strategis sektor sawit dalam mendukung ketahanan pangan serta pemberdayaan petani melalui usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Komitmen tersebut disampaikan dalam kegiatan “Praktik Pengolahan Daun Sawit Menjadi Pakan Ternak untuk Mendukung Program SISKA serta Pembuatan Biochar dan Tankos Skala UMKM dalam Mendukung Ketahanan Pangan” di Kabupaten Labuhanbatu, Sumatera Utara, pada 9 April 2025. Kegiatan ini diikuti ratusan petani sawit plasma, pengurus koperasi, dan pelaku UMKM.
Pelatihan itu merupakan kolaborasi BPDP dengan Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perusahaan Inti Rakyat (Aspekpir) serta didukung Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Sumatera Utara dan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Labuhanbatu.
Kepala Divisi Kerjasama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP Helmi Muhansyah menyampaikan bahwa petani sawit perlu memiliki kemampuan yang memadai sekaligus kesejahteraan ekonomi yang berkelanjutan. Ia menyebut BPDP memiliki sejumlah program strategis, mulai dari beasiswa, riset, pengembangan biodiesel, pelatihan bagi petani, hingga dukungan promosi untuk UMKM.
Helmi juga menyinggung peran sawit dalam konteks global, termasuk dinamika geopolitik yang berdampak pada ketahanan pangan dan energi. Menurut dia, Indonesia memiliki keunggulan karena sawit dapat diolah menjadi biodiesel, bahkan menuju implementasi B-50 pada Juli 2026. “Sawit mendukung ketahanan pangan sekaligus energi nasional. Indonesia bahkan berpotensi menuju B-100 jika didukung produktivitas yang optimal,” ujarnya.
Sekretaris Umum Aspekpir Indonesia Syarifuddin Sirait menyampaikan apresiasi atas dukungan BPDP dalam pelaksanaan kegiatan tersebut. Ia menilai praktik pembuatan biochar dan pupuk organik dari biomassa sawit, serta penerapan sistem integrasi sapi dan kelapa sawit (SISKA), menjadi langkah konkret untuk meningkatkan kapasitas petani.
Menurut Syarifuddin, kegiatan itu merupakan bagian dari pemberdayaan petani sawit melalui UMKM, dengan mendorong petani tidak hanya bergantung pada hasil tandan buah segar, tetapi juga mengolah limbah menjadi produk bernilai ekonomi. Ia juga menyebut Pemerintah Provinsi Sumatera Utara terus memperkuat integrasi sektor perkebunan dan peternakan sebagai strategi meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat ketahanan pangan.
Sementara itu, Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Sumut Marthin Sibagarian mengatakan Indonesia memiliki posisi strategis di industri kelapa sawit global dengan kontribusi besar terhadap produksi dunia. Kondisi tersebut, menurut dia, menjadikan sawit sebagai komoditas unggulan yang dapat memengaruhi stabilitas pasar global.
Dalam kegiatan tersebut, peserta mengikuti praktik pembuatan pakan ternak dari daun sawit, pembuatan biochar dari tandan kosong sawit, serta cara mengaplikasikan biochar pada tanaman pangan. Pelatihan menghadirkan tiga narasumber dari BRIN, Yayasan Agathis Dammara Karbo, serta Perfekta Lintas Semesta. Melalui pendekatan inovatif dan berbasis UMKM, pemberdayaan petani sawit diharapkan dapat mendorong terbentuknya ekosistem yang lebih mandiri, berkelanjutan, dan sejahtera.