BERITA TERKINI
Vietnam Dorong Perusahaan Masuk Langsung ke Jaringan Distribusi Global pada 2026

Vietnam Dorong Perusahaan Masuk Langsung ke Jaringan Distribusi Global pada 2026

Kementerian Perindustrian dan Perdagangan Vietnam menargetkan penguatan pasar luar negeri pada 2026 dengan memprioritaskan pelaksanaan efektif “Proyek untuk Mendorong Partisipasi Langsung Perusahaan Vietnam dalam Sistem Distribusi Luar Negeri pada tahun 2030”. Proyek ini menitikberatkan pada rangkaian kegiatan penghubung rantai pasok internasional, program Pekan Barang Vietnam di pasar utama dan potensial, serta upaya bertahap untuk menegosiasikan dan memfasilitasi penetrasi yang lebih dalam produk Vietnam ke jaringan distribusi global.

Arah kebijakan tersebut menekankan pergeseran dari pola ekspor yang bergantung pada perantara menuju keterlibatan langsung perusahaan Vietnam dalam rantai pasok. Tujuannya, membantu pelaku usaha mengelola rantai pasok secara proaktif, memenuhi standar serta mekanisme operasional jaringan ritel yang ada, dan pada akhirnya meningkatkan nilai tambah sekaligus posisi merek Vietnam di pasar internasional.

Orientasi ini muncul setelah kinerja perdagangan luar negeri Vietnam pada 2025 mencatat sejumlah capaian. Berdasarkan data Bea Cukai Vietnam, total nilai impor-ekspor pada 2025 diperkirakan menembus rekor baru, melampaui US$930 miliar atau naik sekitar 17% dibanding 2024. Vietnam juga diproyeksikan mencatat surplus perdagangan untuk tahun ke-10 berturut-turut, sekitar US$22 miliar, dan resmi masuk kelompok 15 kekuatan perdagangan teratas dunia.

Pemulihan ekspor ke pasar yang memiliki perjanjian perdagangan bebas (FTA) dengan Vietnam juga disebut berlangsung kuat, mencerminkan efektivitas jaringan FTA yang telah dibangun. Sejumlah perjanjian seperti CPTPP, EVFTA, dan UKVFTA dinilai memperluas ruang pasar sekaligus memberi momentum bagi bisnis dan industri Vietnam untuk masuk lebih percaya diri ke pasar global. Namun, di tengah perubahan arus perdagangan global yang cepat, metode ekspor tradisional dinilai menunjukkan banyak keterbatasan.

Kepala Kantor Komite Pengarah Antar-Kementerian tentang Integrasi Ekonomi Internasional, Ta Hoang Linh, menilai sebelumnya banyak perusahaan merasa cukup mengekspor ke beberapa pasar. Tetapi ketika pasar tradisional semakin berisiko, diversifikasi pasar dan akses langsung ke sistem distribusi internasional menjadi kebutuhan yang mendesak.

Dalam konteks itu, Kementerian Perindustrian dan Perdagangan melanjutkan pelaksanaan Proyek “Mendorong Partisipasi Langsung Perusahaan Vietnam dalam Jaringan Distribusi Luar Negeri” yang diluncurkan pada 2015 dan diperbarui pada 2022. Proyek ini dirancang untuk membantu perusahaan beralih dari posisi pemrosesan pasif menjadi lebih aktif mengorganisasi rantai pasok, sekaligus memenuhi standar ketat sistem distribusi global. Sejalan dengan itu, Program Merek Nasional (Nilai Vietnam) juga dijalankan untuk meningkatkan pengakuan dan membangun kepercayaan terhadap barang Vietnam di pasar internasional.

Dalam praktiknya, koneksi langsung antara produsen domestik dan perusahaan distribusi internasional dinilai semakin efektif. Vietnam International Sourcing 2025—kegiatan jejaring rantai pasok internasional—mencatat minat tinggi dengan kehadiran lebih dari 450 saluran distribusi dan importir terkemuka dari lebih 60 negara dan wilayah, serta sekitar 400 perusahaan Vietnam. Selain mitra dari pasar tradisional seperti Amerika Serikat, Uni Eropa, Jepang, dan Korea Selatan, kegiatan ini juga menarik importir dari Timur Tengah, Amerika Latin, dan Eropa Timur, yang disebut sebagai wilayah berkembang dalam strategi diversifikasi pasar ekspor Vietnam.

Meski demikian, keberlanjutan produk Vietnam di jaringan distribusi luar negeri dinilai tidak bisa hanya mengandalkan momentum jejaring. Perusahaan dituntut terus memperbarui standar dan memahami preferensi konsumen, berinvestasi pada peningkatan kualitas, menerapkan sains dan teknologi untuk ketertelusuran, serta membangun strategi hijau dan berkelanjutan.

Dari sisi implementasi pasar, Konselor Komersial Kantor Perdagangan Vietnam di Prancis, Vu Anh Son, menyatakan bahwa membawa barang Vietnam ke sistem distribusi luar negeri bukan lagi semata promosi perdagangan, melainkan bagian penting dari strategi restrukturisasi produksi dan ekspor. Ia menggambarkan proses memasukkan barang Vietnam ke jaringan distribusi di Prancis dijalankan melalui tiga langkah: mengidentifikasi pasar dan saluran distribusi yang tepat, menstandarkan persyaratan bagi perusahaan dan produk, serta menciptakan pasar melalui Pekan Barang Vietnam dan kegiatan komunikasi untuk membentuk kebiasaan konsumen.

Pendekatan serupa juga disampaikan Penasihat Komersial sekaligus Kepala Kantor Perdagangan Vietnam di Amerika Serikat, Do Ngoc Hung. Ia mengatakan, untuk menjalankan proyek tersebut, pihaknya memfokuskan promosi ekspor produk unggulan bernilai tambah tinggi dan membatasi ekspor bahan baku. Dalam beberapa tahun terakhir, delegasi bisnis Vietnam dikoneksikan langsung dengan perusahaan besar dan jaringan distribusi seperti Walmart, Costco, dan Amazon, serta secara bertahap semakin terlibat dalam rantai pasok pasar tersebut.

Data dari Walmart menunjukkan transaksi e-commerce tahunan antara perusahaan itu dan pasar Vietnam melampaui US$2 miliar. Angka ini dipandang menggambarkan potensi besar apabila perusahaan Vietnam dapat mengakses saluran distribusi modern secara efektif.

Minat terhadap barang Vietnam juga datang dari pembeli internasional. Perwakilan AMH Trading London menyebut permintaan konsumen di Inggris dan Eropa tengah pulih, sementara sistem distribusi mencari produk inovatif dan ramah lingkungan—segmen yang dinilai menjadi keunggulan sejumlah perusahaan Vietnam.

Di sisi lain, perdagangan elektronik lintas batas disebut sebagai titik masuk yang relatif mudah, karena memungkinkan produk Vietnam menjangkau konsumen internasional secara langsung dan menjadi ajang uji coba sebelum memasuki jaringan ritel tradisional. Melalui data penjualan, umpan balik pasar, dan kemampuan pemenuhan pesanan, platform digital memberi dasar praktis bagi peritel untuk menilai kapasitas pemasok Vietnam dan memperluas kerja sama.

Sejumlah instrumen pendukung integrasi juga disebut kian berperan, termasuk portal elektronik Perjanjian Perdagangan Bebas Vietnam (FTAP). Portal ini digunakan untuk membantu perusahaan mencari komitmen, tarif, dan aturan asal barang, sekaligus mendukung penyusunan strategi pasar dan pengorganisasian rantai pasok yang lebih sistematis.

Para ahli menilai, ketika informasi terkoneksi dengan lancar, perusahaan berada pada posisi lebih baik untuk memanfaatkan manfaat FTA sehingga ekspor dapat tumbuh bukan hanya dari sisi skala, tetapi juga kualitas. Pengalaman di pasar yang menuntut seperti Prancis, Swedia, dan Amerika Serikat menunjukkan jaringan ritel internasional tidak hanya membeli produk, tetapi juga menilai proses operasional, ketertelusuran, dan stabilitas rantai pasok.

Vu Anh Son menekankan, standarisasi proses produksi dan ekspor merupakan prasyarat. Selain itu, pemilihan perusahaan inti yang tepat untuk menciptakan terobosan serta peningkatan kualitas sumber daya manusia di bidang perdagangan internasional dipandang menjadi faktor kunci agar produk Vietnam dapat mempertahankan posisi jangka panjang di sistem distribusi luar negeri.

Secara keseluruhan, Vietnam menempatkan penguatan akses langsung ke jaringan distribusi luar negeri sebagai bagian dari langkah bertahap—dari kanal digital hingga rak supermarket—untuk meningkatkan posisi, nilai, dan daya saing barang dalam negeri di rantai nilai global. Kebijakan ini juga ditempatkan dalam konteks Kongres Nasional Partai Komunis Vietnam ke-14, yang disebut sebagai peristiwa politik penting dengan signifikansi strategis bagi pembangunan Vietnam di era baru. Informasi resmi dan terkini mengenai Kongres tersedia di situs web Kongres Partai: https://daihoidang.vn