BERITA TERKINI
Vietnam Dinilai Siap Memasuki Siklus Pertumbuhan Baru pada 2026, Meski Risiko Global Membayangi

Vietnam Dinilai Siap Memasuki Siklus Pertumbuhan Baru pada 2026, Meski Risiko Global Membayangi

Memasuki 2026, Vietnam terus menjadi sorotan organisasi internasional dan komunitas investasi global di tengah ketidakpastian ekonomi dunia yang dipengaruhi faktor geopolitik, perdagangan, dan kebijakan moneter. Sejumlah penilaian terbaru menyebut Vietnam tidak hanya berpeluang mempertahankan momentum pertumbuhan tinggi pada 2025, tetapi juga memiliki banyak kondisi yang mendukung dimulainya siklus pertumbuhan baru dengan prospek positif pada 2026.

Kompilasi laporan dan penilaian internasional menunjukkan Vietnam termasuk negara dengan pertumbuhan ekonomi menonjol di Asia pada 2025. Produk Domestik Bruto (PDB) Vietnam tercatat tumbuh 8,02% pada 2025, menjadi tingkat pertumbuhan tertinggi kedua dalam periode 2011–2025.

Berangkat dari capaian tersebut, proyeksi 2026 cenderung mengarah pada skenario optimistis. Laporan Kantor Penelitian Makroekonomi ASEAN+3 (AMRO) yang terbit pada 21 Januari memperkirakan PDB Vietnam pada 2026 dapat mencapai 7,6%, tertinggi di antara negara-negara ASEAN+3 yang mencakup 10 negara Asia Tenggara serta Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan. Sejumlah lembaga keuangan lain juga merilis proyeksi positif, antara lain UOB Bank sebesar 7,5%, HSBC 6,7%, dan Bank Dunia (WB) 6,3%.

AMRO menilai proyeksi tersebut mencerminkan peran Vietnam yang kian menonjol dalam rantai pasokan regional, terutama di sektor manufaktur dan ekspor teknologi tinggi. Faktor lain yang disebut mendukung adalah permintaan domestik yang stabil serta kondisi makroekonomi yang relatif menguntungkan.

Indikator kepercayaan pelaku usaha asing juga menguat. Indeks Kepercayaan Bisnis (Business Confidence Index/BCI) dari Kamar Dagang Eropa di Vietnam (EuroCham) untuk kuartal IV 2025 mencapai 80 poin, level tertinggi dalam tujuh tahun terakhir. Dalam survei yang sama, sekitar 88% bisnis Eropa menyatakan percaya terhadap prospek ekonomi Vietnam untuk periode 2026–2030.

Dari sudut pandang komunitas bisnis, kekuatan Vietnam dinilai tidak hanya bertumpu pada keunggulan biaya. Penilaian itu juga menyoroti perluasan ekosistem produksi dan jasa pendukung, kemampuan untuk berpartisipasi lebih dalam pada sektor bernilai tambah tinggi, serta upaya memperbaiki lingkungan investasi.

Sejumlah sumber internasional kerap menekankan tiga pendorong utama prospek Vietnam. Pertama, investasi asing langsung (FDI) yang tetap memainkan peran kunci, khususnya pada elektronik, teknologi, manufaktur ramah lingkungan, dan transformasi digital. Kedua, posisi Vietnam dalam strategi diversifikasi lokasi produksi perusahaan multinasional yang semakin terlihat. Ketiga, pemulihan pariwisata yang kuat, dengan proyeksi jumlah pengunjung internasional melebihi 21 juta pada 2025, yang dinilai menopang sektor jasa, lapangan kerja, dan konsumsi.

Di sisi permintaan domestik, konsumsi disebut terus bertumbuh dengan perkiraan peningkatan sekitar 8% pada 2025. Sejumlah laporan menyebut konsumsi dan investasi domestik menjadi “pilar” yang membantu menjaga keseimbangan ekonomi di tengah fluktuasi eksternal.

AMRO juga menyoroti bahwa permintaan global terhadap teknologi—termasuk elektronik canggih, semikonduktor, layanan digital, dan aplikasi terkait kecerdasan buatan (AI)—menjadi pendorong penting bagi perekonomian Asia yang sangat terbuka, termasuk Vietnam. Dalam konteks ini, keterlibatan Vietnam yang lebih dalam pada rantai nilai teknologi regional dipandang sebagai keunggulan kompetitif jangka panjang.

Meski prospeknya dinilai cerah, sejumlah organisasi internasional mengingatkan perlunya pengelolaan kebijakan yang fleksibel dan hati-hati agar pertumbuhan tetap berkelanjutan. Dalam laporan akhir Januari 2026, lembaga pemeringkat Fitch Ratings menyebut stabilitas dan kesinambungan kepemimpinan senior dapat mendukung implementasi kebijakan dan program reformasi. Namun, Fitch juga menilai target pertumbuhan tinggi dapat disertai tekanan untuk mempertahankan pertumbuhan kredit yang cepat, sehingga meningkatkan risiko leverage dalam perekonomian yang memiliki keterbukaan perdagangan tinggi.

Fitch mencatat rasio kredit terhadap PDB Vietnam meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir, mencerminkan peran kredit sebagai pendorong pertumbuhan. Target Bank Negara Vietnam untuk pertumbuhan kredit sekitar 15% pada 2026 dipandang sebagai upaya menyeimbangkan dukungan terhadap pertumbuhan dan pengendalian risiko.

Dari sisi eksternal, Fitch menyinggung risiko yang datang dari lingkungan perdagangan internasional. Vietnam berada dalam rantai pasokan yang semakin kompleks antara Amerika Serikat dan China, yang dapat memunculkan kemungkinan pengawasan lebih ketat terkait asal barang atau praktik pengiriman ulang. AMRO, dari perspektif regional, juga menekankan ketidakpastian kebijakan perdagangan global serta perubahan kondisi keuangan internasional yang sulit diprediksi sebagai faktor yang berpotensi memicu gejolak jangka pendek.

Di tengah ketidakpastian tersebut, penilaian internasional secara umum menyebut peluang Vietnam berada pada kemampuan menjaga stabilitas makroekonomi, terus meningkatkan lingkungan investasi, memperbaiki kualitas arus modal, dan meningkatkan produktivitas. Langkah-langkah itu dinilai penting untuk memperkuat fondasi menuju siklus pertumbuhan baru yang lebih berkelanjutan pada 2026 dan seterusnya.