BERITA TERKINI
Vietnam Bidik Momentum Pertumbuhan dari Pergeseran Rantai Pasokan Global 2024–2026

Vietnam Bidik Momentum Pertumbuhan dari Pergeseran Rantai Pasokan Global 2024–2026

Vietnam diperkirakan menjadi salah satu negara yang diuntungkan dari perubahan lanskap ekonomi global pada periode 2024–2026, ketika banyak pemerintah dan bank sentral mulai menggeser pendekatan dari fokus stabilitas menuju pencarian pendorong pertumbuhan baru. Perubahan ini muncul di tengah tekanan utang publik, biaya kesehatan, serta penuaan penduduk yang cepat di banyak negara, sehingga mendorong pelonggaran regulasi dan penerimaan risiko yang lebih tinggi demi menghindari stagnasi.

Dalam konteks tersebut, Vietnam dinilai perlu memanfaatkan arus modal asing secara terampil untuk memperkuat kapasitas domestik sekaligus menjawab tantangan struktural jangka panjang. Dr. Chu Thanh Tuan, Wakil Kepala Program Sarjana Bisnis Universitas RMIT Vietnam, menilai pergeseran global menuju pola pikir yang lebih berani mengambil risiko menciptakan lingkungan yang menguntungkan bagi negara dengan keterbukaan ekonomi tinggi. Ketika investasi dan konsumsi di pasar besar seperti Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang meningkat untuk mendorong pertumbuhan, permintaan terhadap barang ekspor Vietnam diperkirakan ikut terdorong.

Tren restrukturisasi rantai pasokan global untuk mendiversifikasi risiko dari pusat manufaktur lama juga disebut terus menguat. Vietnam tidak lagi hanya dipandang sebagai basis produksi berbiaya rendah, melainkan mulai menegaskan posisinya sebagai tujuan strategis bagi industri teknologi tinggi, energi bersih, serta pusat penelitian dan pengembangan (R&D). Ekonom Dr. Nguyen Minh Phong menilai arus masuk investasi asing langsung (FDI) tidak hanya membawa dana, tetapi juga standar produksi yang lebih ketat dan modern, yang dapat menjadi momentum peningkatan menyeluruh bagi sistem produksi domestik.

Dari sisi pelaku usaha yang terlibat langsung dalam rantai pasok, Tran Anh Duc, Direktur sebuah perusahaan teknik presisi di Kawasan Industri Bac Thang Long, menyebut perubahan sikap mitra asing semakin terlihat. Ia mengatakan pesanan mulai 2025 dan seterusnya kerap disertai usulan kerja sama jangka panjang dan dukungan transfer teknologi. Menurutnya, mitra juga bersedia berinvestasi bersama dalam sistem otomasi serta pemenuhan sertifikasi hijau Eropa demi menjaga stabilitas dan keberlanjutan rantai pasokan. Ia menilai situasi ini menjadi momentum bagi perusahaan domestik untuk berani berinvestasi pada teknologi agar tidak tertinggal.

Namun, meningkatnya ekspor dan masuknya modal asing juga dinilai membawa risiko. Dr. Chu Thanh Tuan mengingatkan bahwa ketergantungan tinggi pada faktor eksternal membuat perekonomian Vietnam semakin sensitif terhadap guncangan keuangan internasional. Jika negara-negara ekonomi besar gagal mengelola risiko dan memicu gelembung keuangan atau resesi mendadak, Vietnam berpotensi terdampak melalui penurunan pesanan dan penarikan modal.

Karena itu, ia menilai Vietnam tidak cukup hanya berupaya menarik FDI sebanyak-banyaknya, melainkan perlu menerapkan penyaringan yang lebih canggih. Prioritas diarahkan pada proyek yang dapat terintegrasi lebih dalam dengan bisnis domestik, sekaligus menghindari terbentuknya “pulau-pulau” produksi yang hanya memanfaatkan insentif pajak dan tenaga kerja, lalu hengkang ketika kondisi tidak lagi menguntungkan.

Di luar faktor eksternal, sejumlah pakar menilai kapasitas internal akan menentukan apakah Vietnam dapat tumbuh cepat sekaligus berkelanjutan. Salah satu tantangan struktural yang disorot adalah penuaan penduduk yang cepat. Vietnam memasuki fase tersebut dengan tingkat yang disebut termasuk tertinggi di dunia, sehingga memunculkan kebutuhan mendesak untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja guna mengantisipasi kekurangan sumber daya manusia di masa depan. Risiko “menjadi tua sebelum menjadi kaya” dinilai nyata apabila Vietnam tidak memanfaatkan 10–15 tahun ke depan untuk menggeser model pertumbuhan dari berbasis sumber daya dan tenaga kerja murah menuju berbasis pengetahuan dan teknologi.

Dr. Mac Quoc Anh, Wakil Presiden sekaligus Sekretaris Jenderal Asosiasi Usaha Kecil dan Menengah Hanoi, menilai komunitas bisnis domestik menghadapi ujian besar dalam inovasi. Ia menyebut banyak usaha kecil dan menengah (UKM) masih berada di segmen rendah rantai nilai, terutama pada aktivitas pemrosesan dan perakitan berdasarkan desain yang sudah ada. Kondisi ini, menurutnya, membuat margin keuntungan tipis dan ketahanan lemah terhadap fluktuasi biaya input maupun tuntutan regulasi lingkungan yang lebih ketat dari pasar ekspor.

Ia menekankan bahwa risiko terbesar bagi bisnis Vietnam saat ini bukanlah investasi pada transformasi digital, melainkan keterlambatan dalam meningkatkan kemampuan manajemen dan keahlian teknologi. Untuk bertahan dan berkembang, ia mendorong perusahaan berani berinvestasi pada aktivitas bernilai tambah lebih tinggi seperti desain, penguatan merek, dan layanan purna jual.

Dr. Anh juga menilai pemerintah memerlukan kebijakan dukungan yang lebih substantif dan spesifik untuk memperkuat keterkaitan antarbisnis domestik. Diversifikasi pasar ekspor melalui perjanjian perdagangan bebas (FTA) disebut membutuhkan panduan yang lebih rinci per industri agar pelaku usaha benar-benar dapat memanfaatkan peluang. Ketika bisnis domestik semakin kuat, mereka dinilai dapat menjadi “satelit” penting bagi perusahaan multinasional sehingga lebih banyak nilai ekonomi tertahan di Vietnam, sekaligus memperkuat ketahanan terhadap fluktuasi pasar keuangan global yang sulit diprediksi.

Dari perspektif makroekonomi, Dr. Chu Thanh Tuan menegaskan bahwa meskipun tren global mengarah pada pengambilan risiko, Vietnam tetap perlu menjaga disiplin fiskal dan keamanan sistem perbankan. Ia menilai Vietnam tidak memiliki ruang kebijakan seluas negara maju untuk melakukan pelonggaran ekstrem. Pengendalian inflasi, stabilisasi nilai tukar, serta memastikan kredit mengalir ke sektor produksi yang tepat disebut menjadi tugas penting.

Ia juga menyebut pendapatan dari periode pertumbuhan yang menguntungkan sebaiknya diprioritaskan untuk investasi infrastruktur strategis seperti transportasi, energi terbarukan, serta sistem pendidikan berkualitas tinggi. Investasi pada sumber daya manusia dipandang sebagai “benteng” untuk menghadapi guncangan demografis dan mendukung langkah menuju status negara berpenghasilan tinggi.

Secara lebih luas, periode 2024–2026 dinilai bukan hanya momentum mengejar pertumbuhan jangka pendek, tetapi juga kesempatan menerapkan reformasi struktural yang lebih substantif. Keberanian mengambil risiko secara terukur untuk inovasi dipandang perlu berjalan seiring dengan visi jangka panjang serta komitmen menjaga fondasi makroekonomi, agar peluang sementara dapat diubah menjadi kekuatan nasional yang bertahan lama.