Kesuksesan Nvidia Corp mendominasi pasar cip kecerdasan buatan (AI) global telah mengerek valuasi perusahaan hingga triliunan dolar AS, sekaligus membawa keuntungan besar bagi para pemegang sahamnya. Di tengah lonjakan tersebut, pendiri dan CEO Nvidia Jensen Huang mengungkap satu keputusan finansial masa lalu yang ia sebut sebagai penyesalan besarnya.
Dalam sesi diskusi pada Pertemuan Tahunan ke-56 World Economic Forum, Huang bercerita tentang langkah yang ia ambil tak lama setelah Nvidia melantai di bursa saham (IPO) pada 1999. Saat berbincang dengan CEO BlackRock Larry Fink, Huang mengatakan ia menjual sebagian sahamnya untuk membelikan orang tuanya sebuah Mercedes S-Class sebagai bentuk apresiasi.
Penjualan saham itu dilakukan ketika valuasi pasar Nvidia masih sekitar US$ 300 juta, setara Rp 5,03 triliun dengan kurs Rp 16.777 per dolar AS. Meski tindakan tersebut merupakan wujud bakti kepada orang tua, Huang menilai keputusan itu menjadi mahal jika dilihat dari kinerja saham Nvidia selama dua dekade terakhir. Ia bahkan berseloroh bahwa Mercedes tersebut bisa disebut sebagai mobil termahal di dunia jika dihitung berdasarkan opportunity cost dari saham yang dilepasnya.
Menurut keterangan yang dikutip dari Yahoo Finance, Huang juga menyebut orang tuanya tidak terlalu gembira jika mengingat nilai saham yang telah dijual demi mobil itu. Mobil Mercedes tersebut disebut masih disimpan dan dimiliki oleh orang tuanya hingga kini.
Saham Nvidia pertama kali diperdagangkan pada 22 Januari 1999, dengan harga penawaran perdana US$ 12 per saham atau sekitar Rp 201.324. Sejak itu, Nvidia telah beberapa kali melakukan pemecahan saham (stock split), sehingga basis harga awal menjadi jauh lebih kecil dibandingkan harga pasar saat ini.
Dalam diskusi yang sama, Larry Fink memuji kinerja jangka panjang Nvidia. Dikutip dari Yahoo Finance, Fink menyebut pemegang saham Nvidia menikmati imbal hasil tahunan sekitar 30% hingga 37% sejak IPO. Angka tersebut disebut melampaui total imbal hasil tahunan BlackRock yang berada di level 21%.
Sejumlah indikator terbaru turut menggambarkan skala pertumbuhan Nvidia. Perusahaan ini disebut menjadi yang pertama menembus valuasi US$ 5 triliun tahun lalu, meski saat ini berada di kisaran US$ 4,45 triliun atau sekitar Rp 74.657 triliun. Dalam lima tahun terakhir, harga saham NVDA tercatat melonjak 1.236,11%, sementara dalam 12 bulan terakhir naik 30,07%.
Perjalanan Nvidia saat ini juga dikaitkan dengan keputusan strategis perusahaan yang sejak 1999 berfokus pada pengembangan graphics processing unit (GPU). Teknologi yang awalnya ditujukan untuk pasar gim itu kemudian menjadi fondasi utama bagi beban kerja AI modern. Nvidia juga disebut membantu memulai era modern AI pada 2012 melalui pengenalan AlexNet, sebuah jaringan saraf yang menunjukkan potensi transformatif AI lebih awal dibandingkan banyak pihak lain.
Pada Maret 2024, Nvidia meluncurkan platform GPU Blackwell untuk mendukung komputasi skala besar. Huang juga menyampaikan pada ajang CES 2026 bahwa platform generasi berikutnya bernama Vera Rubin sudah berada dalam tahap produksi penuh.
Meski saham Nvidia mengalami fluktuasi jangka pendek, tren jangka panjangnya tetap kuat seiring berkembangnya revolusi AI. Kisah Huang soal penjualan saham demi membelikan mobil untuk orang tuanya menjadi pengingat tentang dampak bunga majemuk (compounding) dalam investasi jangka panjang, khususnya pada perusahaan dengan keunggulan teknologi yang fundamental.

