Deloitte AI Institute merilis laporan State of AI in the Enterprise edisi 2026 yang memotret cara organisasi memanfaatkan kecerdasan buatan (AI), beserta dampak, perubahan, dan pertimbangan yang muncul seiring meluasnya adopsi teknologi ini. Laporan bertajuk The State of AI in the Enterprise: The Untapped Edge tersebut disusun berdasarkan survei terhadap lebih dari 3.000 pemimpin perusahaan di berbagai negara, dari tingkat direktur hingga C-level, yang terlibat langsung dalam inisiatif AI di organisasinya.
Deloitte menilai potensi AI bersifat transformasional dan momentumnya terus menguat. Namun, agar investasi AI menghasilkan nilai bisnis yang berkelanjutan, organisasi dinilai membutuhkan arah strategis serta tata kelola yang kuat.
Chris Lewin, AI & Data Capability Leader Deloitte Asia Pacific, menyatakan para pemimpin bisnis di Asia Tenggara memiliki ambisi besar terhadap AI dan mulai merasakan manfaat, terutama pada peningkatan produktivitas. Ia menekankan kebutuhan peta jalan yang jelas untuk mendorong transformasi melampaui optimalisasi bertahap, disertai tata kelola yang kuat dan tertanam di seluruh tingkat organisasi. Menurutnya, nilai penuh AI akan tercapai ketika perusahaan berani membayangkan ulang berbagai kemungkinan untuk menciptakan diferensiasi strategis dan keunggulan kompetitif yang berkelanjutan.
Transisi dari pilot ke produksi masih terbatas
Laporan tersebut menyoroti bahwa peralihan dari tahap percobaan (pilot) ke implementasi penuh menjadi langkah krusial untuk menangkap nilai AI. Meski tingkat eksperimentasi meningkat, survei menemukan baru 25% responden yang telah memindahkan 40% atau lebih proyek percontohan AI mereka ke tahap produksi.
Di sisi lain, 54% responden memperkirakan akan mencapai tingkat tersebut dalam tiga hingga enam bulan ke depan. Deloitte mencatat organisasi menghadapi prioritas yang saling bersaing: menjaga kelangsungan operasional bisnis inti dengan teknologi saat ini, sekaligus berinvestasi pada inovasi agar tetap kompetitif. Dalam konteks ini, komunikasi strategi yang jelas dinilai penting untuk mengurangi pilot fatigue dan mendorong penerapan AI melampaui fase eksperimen.
Dampak AI meningkat, namun redesain proses belum merata
Menurut survei, dampak AI terhadap bisnis terus meningkat. Sebanyak 25% pemimpin perusahaan melaporkan AI telah memberikan efek transformasional bagi organisasi mereka, lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
Walau peningkatan produktivitas dirasakan secara luas, hanya 30% organisasi yang telah mendesain ulang proses-proses kunci dengan menjadikan AI sebagai fondasi utama. Sementara itu, 37% organisasi mengaku masih menggunakan AI pada tingkat permukaan, dengan sedikit atau tanpa perubahan pada proses bisnis yang mendasarinya.
Laporan tersebut menekankan keberhasilan adopsi AI ke depan akan sangat ditentukan oleh kemampuan perusahaan menciptakan diferensiasi strategis dan keunggulan kompetitif yang berkelanjutan, yakni dengan memanfaatkan AI untuk membayangkan ulang apa yang mungkin dicapai bisnis, bukan sekadar mengoptimalkan yang sudah ada.
Agentic AI diproyeksikan tumbuh, kesiapan tata kelola tertinggal
Deloitte juga menyoroti prospek agentic AI, yang diperkirakan tumbuh pesat. Hampir tiga perempat perusahaan disebut berencana menerapkannya dalam dua tahun ke depan. Namun, hanya 21% yang menyatakan telah memiliki model tata kelola agen AI yang matang.
Laporan tersebut mencatat perusahaan yang mencatat keberhasilan paling signifikan umumnya menerapkan pendekatan terukur: memulai dari kasus penggunaan berisiko rendah, membangun kapabilitas tata kelola, lalu melakukan skalabilitas secara bertahap dan terencana. Dalam konteks ini, tata kelola diposisikan bukan sekadar pagar pembatas, melainkan katalis pertumbuhan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.
Agentic AI merujuk pada sistem otonom yang mampu menetapkan tujuan, menyusun rencana, dan mengeksekusi tugas kompleks bertahap dengan intervensi manusia minimal. Berbeda dengan generative AI yang umumnya menghasilkan konten berdasarkan perintah, agentic AI memanfaatkan penalaran, penggunaan alat eksternal, serta memori untuk menjalankan alur kerja secara mandiri demi mencapai tujuan jangka panjang.
Physical AI dan menguatnya isu kedaulatan AI
Laporan ini turut mencatat meningkatnya perhatian organisasi terhadap kedaulatan AI (sovereign AI), yakni kemampuan suatu negara mengembangkan dan menggunakan AI dengan sumber daya serta infrastruktur miliknya sendiri. Saat ini, 77% perusahaan disebut telah mempertimbangkan negara asal dalam pemilihan vendor AI, sementara hampir tiga dari lima perusahaan membangun tumpukan (stack) AI mereka terutama dengan penyedia lokal.
Selain itu, physical AI disebut semakin cepat menjadi bagian integral operasional di berbagai wilayah, dengan sektor manufaktur, logistik, dan pertahanan memimpin adopsi global. Tingkat adopsinya diproyeksikan mencapai 80% dalam dua tahun ke depan, yang dinilai akan mengarahkan gelombang berikutnya dari otomasi industri.
Physical AI adalah cabang AI yang menanamkan model AI ke perangkat keras fisik seperti robot, kendaraan, atau mesin industri, sehingga sistem dapat merasakan, menalar, dan bertindak di dunia nyata secara real time. Berbeda dengan generative AI yang beroperasi di ranah digital, physical AI mengombinasikan sensor dan penalaran kognitif untuk berinteraksi langsung dengan lingkungan serta beradaptasi terhadap situasi yang tidak terduga.

