BERITA TERKINI
Utang AS Tembus US$38 Triliun, CRFB Petakan Enam Skenario Krisis yang Berpotensi Mengguncang Ekonomi Global

Utang AS Tembus US$38 Triliun, CRFB Petakan Enam Skenario Krisis yang Berpotensi Mengguncang Ekonomi Global

Utang nasional Amerika Serikat (AS) telah menembus sekitar US$38 triliun atau setara Rp641.820 triliun (kurs Rp16.890 per US$1). Besaran tersebut disebut sudah berada di kisaran 100% dari Produk Domestik Bruto (PDB) AS, kondisi yang dinilai dapat membuat beban utang tumbuh lebih cepat dibanding perekonomian dan meningkatkan risiko krisis jika tidak ada perbaikan kebijakan.

Peringatan itu disampaikan Committee for a Responsible Federal Budget (CRFB), lembaga pengawas fiskal nonpartisan, dalam laporan terbaru yang membahas seperti apa bentuk krisis fiskal bila utang terus membengkak. CRFB menilai, apabila utang nasional terus meningkat lebih cepat daripada pertumbuhan ekonomi, AS pada akhirnya dapat menghadapi berbagai bentuk krisis yang berdampak besar pada standar hidup—bukan hanya bagi warga AS, tetapi juga bagi ekonomi global.

Dengan posisi utang yang secara efektif setara ukuran total ekonomi, CRFB menyebut kondisi fiskal AS berada pada jalur jangka panjang yang tidak berkelanjutan. Laporan itu juga menegaskan kebutuhan langkah pengurangan defisit, namun menekankan pentingnya paket kebijakan yang pro-pertumbuhan dan dirancang matang. Menurut CRFB, koreksi yang dilakukan secara mendadak justru berisiko memicu guncangan yang lebih besar.

Enam skenario krisis

CRFB memetakan enam jenis krisis yang dapat muncul apabila jalur fiskal tidak berubah, yaitu krisis keuangan, krisis inflasi, krisis pengetatan fiskal (austeritas), krisis mata uang, krisis gagal bayar, serta krisis gradual atau krisis yang datang perlahan. Lembaga tersebut menilai salah satu skenario—atau kombinasi di antaranya—dapat memicu disrupsi besar dan menekan standar hidup secara signifikan.

Austeritas: risiko kontraksi tajam

Salah satu skenario yang disebut paling mengkhawatirkan adalah krisis austeritas, ketika kepercayaan pasar melemah sehingga pembuat kebijakan terpaksa memangkas belanja besar-besaran atau menaikkan pajak secara cepat untuk meredam kepanikan. CRFB memperkirakan kontraksi fiskal setara 5% dari PDB dapat membalikkan pertumbuhan moderat menjadi penyusutan ekonomi sekitar 3%.

Jika terjadi, skenario ini dinilai berpotensi memicu resesi lebih dalam dibanding periode pascaperang, disertai lonjakan pengangguran dan meningkatnya penutupan bisnis. CRFB menyinggung Yunani pada 2010-an sebagai contoh ketika pelemahan ekonomi mendorong lonjakan biaya pinjaman dan imbal hasil obligasi, yang kemudian berujung pada pengetatan kebijakan serta tekanan sosial-ekonomi berkepanjangan. Portugal dan Spanyol juga mengalami krisis serupa pada periode tersebut, meski skalanya lebih ringan.

Krisis keuangan hingga gagal bayar

Dalam skenario krisis keuangan, CRFB menilai kepercayaan investor terhadap pasar obligasi pemerintah AS dapat melemah dan memicu lonjakan suku bunga yang tak terkendali. Kondisi ini dapat menekan harga obligasi yang sudah beredar dan berisiko menimbulkan kegagalan berantai pada bank maupun lembaga keuangan.

CRFB menyebut runtuhnya Silicon Valley Bank pada 2023 sebagai gambaran skala kecil tentang bagaimana kenaikan suku bunga yang cepat dapat mengguncang sektor perbankan.

Sementara itu, skenario krisis gagal bayar dinilai memiliki peluang sangat kecil. Namun, jika terjadi kegagalan pembayaran bunga atau pokok atas sekitar US$31 triliun utang yang dipegang publik, dampaknya diperkirakan sangat parah, mulai dari pembekuan pasar kredit global hingga tekanan besar pada pasar saham dan ekonomi dunia.

CRFB juga mencatat sejumlah negara pernah mengalami gagal bayar dalam sejarah, termasuk Meksiko, Brasil, Peru, Argentina, serta Rusia pada akhir 1990-an. Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa Argentina sempat mengambil jalur kredit sebesar US$20 miliar dari AS pada 2025, namun kemudian melunasinya sepenuhnya tak lama setelah itu, merujuk pada pernyataan Menteri Keuangan AS Scott Bessent.

Krisis inflasi dan risiko pada dolar

Untuk skenario krisis inflasi, CRFB memperkirakan bank sentral AS dapat berada di bawah tekanan untuk memonetisasi utang—mencetak uang untuk membeli obligasi pemerintah—guna menghindari gagal bayar atau kegagalan sistem perbankan. Langkah tersebut dinilai berisiko memicu lonjakan inflasi yang menggerus tabungan dan daya beli.

Laporan itu juga menyebut Ray Dalio kembali mengingatkan risiko memonetisasi utang. Ia menilai besarnya krisis dapat memicu runtuhnya tatanan moneter, dengan pilihan yang sama-sama berat: mencetak uang atau membiarkan krisis utang terjadi.

Adapun pada skenario krisis mata uang, CRFB menilai kebijakan fiskal yang sembrono dapat memicu depresiasi mendadak dolar AS. Jika dolar melemah, posisi dolar sebagai mata uang cadangan dominan dunia dapat tergerus, impor menjadi jauh lebih mahal, dan pengaruh geopolitik AS berpotensi menurun.

Krisis gradual: tekanan jangka panjang

Skenario lainnya adalah krisis gradual, yakni krisis yang tidak datang melalui satu peristiwa besar, melainkan lewat perlambatan pertumbuhan selama puluhan tahun karena utang tinggi menggeser investasi dan menekan produktivitas. CRFB mengutip pemodelan Congressional Budget Office (CBO) yang menunjukkan lintasan ini dapat membuat pendapatan riil per kapita pada 2050 menjadi 8% lebih rendah dibandingkan jika tidak terjadi.

Jepang disebut sebagai contoh klasik krisis gradual. Negara tersebut mempertahankan level utang sangat tinggi selama beberapa dekade, menghindari krisis akut, namun PDB riilnya hanya tumbuh sekitar 10% atau setara 0,5% per tahun dalam dua dekade terakhir.

Biaya bunga menembus US$1 triliun

CRFB juga menyoroti membengkaknya biaya bunga utang yang melonjak menjadi sekitar US$1 triliun tahun lalu, atau setara sekitar Rp16.890 triliun. Beban tersebut disebut menggerus sekitar 18% dari penerimaan federal, besaran yang sebanding dengan total anggaran Medicare.

Menurut CRFB, dengan utang berada di 100% PDB, ruang fiskal AS menjadi lebih sempit dibandingkan periode mana pun dalam sejarah apabila terjadi guncangan besar seperti perang, pandemi, atau resesi. Laporan itu juga menekankan bahwa krisis tidak selalu membutuhkan satu titik balik tunggal; berbagai pemicu dapat memantik tekanan, mulai dari resesi, lelang obligasi pemerintah AS yang buruk ketika permintaan investor melemah, hingga pelanggaran batas debt limit.