BERITA TERKINI
Usaha Batako Lokal di Kutai Barat Tumbuh di Tengah Tren Bangunan Beton, Omzet Capai Puluhan Juta

Usaha Batako Lokal di Kutai Barat Tumbuh di Tengah Tren Bangunan Beton, Omzet Capai Puluhan Juta

Sendawar—Di tengah pertumbuhan pembangunan di Kabupaten Kutai Barat (Kubar), usaha percetakan batako CV Lesio Walo menjadi salah satu pelaku usaha lokal yang ikut merasakan meningkatnya kebutuhan material konstruksi.

Pemilik CV Lesio Walo, Yakobus Yamon, mengatakan usaha yang dirintisnya lebih dari satu tahun lalu berawal dari pengamatannya terhadap perubahan pola pembangunan masyarakat di Kubar. Menurut dia, warga yang sebelumnya banyak menggunakan kayu untuk membangun rumah dan bangunan lain, kini mulai beralih ke konstruksi berbahan beton.

“Dulu masyarakat lebih banyak menggunakan kayu untuk membangun rumah atau bangunan lainnya. Sekarang sudah beralih ke bangunan beton. Saya melihat usaha konstruksi ini tidak ada matinya,” kata Yamon, Sabtu, 21 Februari 2026.

Perubahan tersebut, lanjut Yamon, membuka peluang baru karena kebutuhan batako di Kubar dinilai terus meningkat. Ia melihat jumlah produsen yang ada belum sepenuhnya mampu memenuhi permintaan pasar secara menyeluruh.

Berangkat dari kondisi itu, Yamon membuka usaha percetakan batako di Kampung Rejo Basuki, Kecamatan Barong Tongkok. Ia menilai lokasi tersebut strategis untuk menjangkau kebutuhan pembangunan di sekitar ibu kota kabupaten maupun wilayah sekitarnya.

Meski demikian, Yamon mengakui perjalanan usaha tidak selalu berjalan mulus. Selama setahun terakhir, ia menghadapi berbagai tantangan, terutama dampak perlambatan ekonomi pascapandemi Covid-19 yang turut memengaruhi daya beli masyarakat.

“Namanya dunia usaha, pasti ada tantangan. Kondisi ekonomi masyarakat memang belum sepenuhnya pulih. Tapi puji Tuhan, kami masih bisa bertahan,” ujarnya.

Yamon menyebut usaha yang dijalankannya juga membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitar, khususnya mereka yang memiliki keterampilan di bidang produksi material bangunan. Ia mengatakan hal itu menjadi salah satu dampak positif dari keberlangsungan usahanya.

Dari sisi pendapatan, Yamon menjelaskan omzet tidak bersifat tetap karena bergantung pada jumlah pesanan. Dalam kondisi normal, omzet bersih per bulan berada di kisaran Rp30 juta hingga Rp40 juta setelah dikurangi biaya operasional dan gaji karyawan. “Kalau dihitung kotor, bisa sampai Rp60 juta per bulan. Apalagi saat kegiatan pembangunan pemerintah sedang ramai, pesanan bisa membludak dan kami bisa kewalahan,” ucapnya.

Untuk harga jual, CV Lesio Walo mematok Rp2.900 per buah batako untuk wilayah ibu kota Kabupaten Kubar, termasuk ongkos kirim. Sementara untuk pengiriman di luar wilayah tersebut, biaya disesuaikan dengan jarak tempuh dengan mempertimbangkan konsumsi bahan bakar dan upah sopir.

Ke depan, Yamon berharap sektor konstruksi di Kubar terus berkembang agar usaha lokal seperti miliknya dapat tumbuh seiring pembangunan daerah dan memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.