Momentum Lebaran kerap diikuti lonjakan pengeluaran, mulai dari biaya mudik, belanja kebutuhan hari raya, hingga pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) kepada keluarga dan kerabat. Pengeluaran juga sering melebar untuk kebutuhan sosial seperti oleh-oleh, acara kumpul keluarga, hingga traktiran selama di kampung halaman.
Tanpa perencanaan dan pengendalian yang tepat, kondisi ini dapat membuat keuangan menjadi seret setelah libur panjang usai, bahkan mengganggu anggaran kebutuhan rutin pada bulan berikutnya. Sejumlah perencana keuangan membagikan langkah yang bisa dilakukan agar kondisi finansial tetap sehat pasca Lebaran.
1. Evaluasi pengeluaran dan kembalikan pos keuangan
Perencana Keuangan Aidil Akbar Madjid menilai kondisi pasca Lebaran tahun ini relatif tidak terlalu berat karena berdekatan dengan periode gajian. Meski begitu, ia menekankan pentingnya menata ulang keuangan sebagai langkah awal.
Masyarakat disarankan mengecek kembali pengeluaran selama Lebaran, termasuk apakah ada tabungan atau dana darurat yang terpakai. Jika ada, Aidil menyarankan dana tersebut segera diisi kembali dari gaji berikutnya.
“Begitu gajian, langsung dialokasikan lagi untuk mengisi dana yang sempat terpakai, baik itu tabungan maupun dana darurat,” ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Senin (16/3).
Aidil juga mengingatkan bahwa penggunaan utang selama Lebaran dapat memperberat kondisi keuangan setelahnya. Karena itu, kewajiban tersebut perlu segera diselesaikan, baik dengan pelunasan langsung maupun cicilan dalam jangka pendek.
“Jangan menggunakan utang gitu ya, kartu kredit, dan sebagainya itu jangan dipakai. Karena kalau dipakai, nanti efeknya pada saat balik ke kota besar harus bayar cicilan tuh, harus bayar utang,” kata Aidil.
2. Hindari utang konsumtif
Aidil menegaskan masyarakat sebaiknya tidak menggunakan paylater, kartu kredit, atau pinjaman online untuk kebutuhan Lebaran, terutama yang bersifat konsumtif seperti membeli oleh-oleh. Menurutnya, THR pada dasarnya sudah diperuntukkan bagi kebutuhan hari raya, seperti transportasi mudik, berbagi dengan keluarga, hingga membeli kebutuhan Lebaran. Karena itu, menutup kebutuhan tersebut dengan utang dinilai tidak tepat.
“Tidak boleh (pakai pinjaman online) kalau dari saya sih. Lebaran pake pinjaman online itu kan sama aja memaksakan lebaran di kampung halaman padahal dia gak mampu kan,” tegasnya.
Ia juga menyarankan masyarakat lebih bijak mengatur pengeluaran, misalnya dengan menentukan prioritas dalam memberi oleh-oleh atau amplop kepada keluarga. Selain itu, penting untuk tidak terjebak gengsi atau tekanan sosial selama di kampung halaman yang bisa memicu pengeluaran berlebihan.
3. Lakukan financial check-up dan atur prioritas
Perencana Keuangan OneShildt Consulting Budi Rahardjo menyarankan masyarakat melakukan “financial check-up” setelah Lebaran. Langkah ini mencakup pengecekan sisa kas dari THR dan bonus, total utang (termasuk paylater dan kartu kredit), serta memastikan tidak ada kewajiban pembayaran yang terlewat.
“Langkah pertama adalah ‘financial check-up’ dengan cek sisa kas dari THR dan bonus, total utang terutama apabila ada utang paylater dan kartu kredit, dan tanggal kewajiban yang jatuh tempo berikutnya jangan sampai terlewat karena kas sudah habis untuk pengeluaran hari raya sedangkan tanggal gajian berikutnya masih panjang,” ujar Budi kepada CNNIndonesia.com, Selasa (17/3).
Budi juga mengingatkan pentingnya merapikan prioritas pengeluaran dengan mendahulukan kebutuhan wajib dan cicilan, serta menunda pengeluaran konsumtif.
4. Masuk fase pemulihan dan kembali menabung
Setelah pengeluaran besar, Budi menilai masyarakat perlu masuk ke fase “recovery mode” atau pemulihan keuangan dengan berhemat hingga kondisi kembali stabil. Prioritas utama, menurutnya, adalah mengisi kembali dana darurat, melunasi utang, serta tetap menyisihkan minimal 10–20 persen penghasilan untuk tabungan.
Jika arus kas masih terbatas, ia menyarankan fokus diarahkan terlebih dahulu pada pelunasan utang sebelum kembali berinvestasi.
“Dana darurat yang terpakai diisi kembali seperti sebelumnya, cicilan utang sudah dibayar dan amankan minimal 10-20 persen penghasilan untuk tabungan, meski kecil. Bisa juga gunakan metode budgeting sederhana (misalnya metode 50:30:20). Jika cashflow masih ketat dan tidak memungkinkan, fokus dulu menurunkan utang sebelum kemudian berlanjut ke menabung dan investasi,” pungkas Budi.
Dengan langkah yang disiplin dan terencana, kondisi keuangan pasca Lebaran dinilai tidak hanya bisa pulih, tetapi juga menjadi lebih sehat ke depannya.