BERITA TERKINI
Tarif Dagang AS–Eropa Dorong Emas ke Rekor, Bitcoin Tertekan dan Picu Likuidasi

Tarif Dagang AS–Eropa Dorong Emas ke Rekor, Bitcoin Tertekan dan Picu Likuidasi

Ketegangan dagang antara Amerika Serikat dan Uni Eropa kembali mengguncang pasar global. Di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap dampak ekonomi dan perdagangan, investor terlihat beralih ke aset yang dinilai lebih aman. Harga emas melonjak ke rekor baru, sementara Bitcoin (BTC) justru melemah dan memicu likuidasi besar di pasar kripto.

Pemicu gejolak datang dari kebijakan terbaru Presiden AS Donald Trump. Pada Sabtu (17/1), Trump mengumumkan tarif impor sebesar 10% terhadap delapan negara Eropa: Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Inggris, Belanda, dan Finlandia. Tarif tersebut dijadwalkan naik menjadi 25% mulai 1 Juni 2026 dan akan tetap berlaku hingga Amerika Serikat mencapai kesepakatan pembelian Greenland.

Langkah ini memicu respons dari Uni Eropa. Para pemimpin negara terdampak menggelar pertemuan darurat dan menyatakan solidaritas kepada Denmark dan Greenland. Uni Eropa juga dilaporkan menyiapkan paket balasan berupa tarif hingga €93 miliar, serta opsi pembatasan akses perusahaan AS ke pasar Eropa. Ancaman eskalasi perang dagang berskala besar kemudian membebani sentimen risiko global.

Di tengah ketidakpastian geopolitik dan ekonomi, emas kembali menjadi tujuan utama investor. Harga emas melonjak tajam hingga sekitar US$4.690 per ons troi, mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah. Perak juga menguat dan menembus level di atas US$94 per ons. Sementara itu, pasar saham global dibuka melemah karena kekhawatiran konflik dagang AS–Eropa dapat menekan pertumbuhan ekonomi dan arus perdagangan internasional.

Berbeda dengan emas, Bitcoin bergerak melemah seiring tekanan pada aset berisiko. Data pasar menunjukkan harga Bitcoin turun sekitar 3%, dari US$95.419 ke US$92.284 pada perdagangan Asia, sebelum stabil di kisaran US$92.600. Penurunan ini memicu likuidasi besar-besaran di pasar kripto dengan total sekitar US$864 juta. Posisi long menyumbang sekitar US$783 juta, dan sebagian besar likuidasi terjadi dalam kurun waktu 12 jam, mencerminkan tingginya penggunaan leverage di pasar.

Kapitalisasi pasar kripto secara keseluruhan turut turun sekitar 2,8% menjadi US$3,22 triliun. Sejumlah aset kripto utama lain seperti Ethereum (ETH), BNB, XRP, dan Solana (SOL) juga mengalami koreksi seiring memburuknya sentimen pasar.

Tekanan terhadap Bitcoin disebut tidak hanya berasal dari faktor geopolitik. Arus dana keluar kembali terjadi pada produk spot Bitcoin ETF. Data menunjukkan 12 spot Bitcoin ETF mencatat arus keluar bersih sekitar US$394,68 juta pada 16 Januari, mengakhiri reli arus masuk selama empat hari sebelumnya yang mencapai US$1,8 miliar.

Selain itu, ketidakpastian regulasi di Amerika Serikat turut membebani sentimen. Penundaan pembahasan RUU struktur pasar kripto di Senat, setelah mundurnya dukungan dari sejumlah pelaku industri besar, dilaporkan ikut memperburuk kepercayaan investor.

Dari sisi teknikal, Bitcoin kini mendekati area support penting yang telah menopang pergerakan sejak akhir November, yakni di kisaran US$84.500. Pergerakan harga juga berdekatan dengan garis tren naik jangka menengah serta rata-rata pergerakan 50 hari, menjadikan zona tersebut sebagai area yang dipantau pelaku pasar. Rentang US$90.000–US$93.000 disebut menjadi medan tarik-menarik antara tekanan jual dan upaya pemulihan.

Indikator momentum menunjukkan kecenderungan melemah. MACD mulai membentuk persilangan bearish dengan garis sinyal, sementara RSI bergerak mendekati level netral setelah sebelumnya berada di area jenuh beli. Kondisi ini memperkuat sikap kehati-hatian pasar terhadap arah pergerakan Bitcoin dalam waktu dekat, terutama ketika tekanan sentimen global belum mereda.

Pergerakan yang kontras antara emas dan Bitcoin memperlihatkan bagaimana pasar masih membedakan peran keduanya saat risiko global meningkat. Eskalasi tarif dagang AS–Eropa mendorong investor kembali ke aset lindung nilai tradisional, sementara Bitcoin masih rentan terhadap gejolak sentimen dan faktor makro, termasuk arus keluar ETF serta ketidakpastian regulasi.