Beijing — Produk Domestik Bruto (PDB) China pada 2025 tercatat tumbuh 5 persen secara tahunan (year on year/yoy). Di antara negara-negara Kelompok 20 (G20) yang telah merilis data sejauh ini, sebagian besar mencatat pertumbuhan di bawah 2 persen, dengan Jerman, Prancis, dan Italia berada di bawah 1 persen.
Di tengah tekanan ekonomi global dan pemulihan yang dinilai semakin tidak merata, laju ekspansi tersebut disebut mencerminkan ketahanan serta potensi ekonomi China, mengingat skala perekonomian negara itu yang sangat besar.
Secara nominal, total PDB China pada 2025 dilaporkan melampaui 140 triliun yuan (1 yuan = Rp2.423) atau sekitar 20,16 triliun dolar AS (1 dolar AS = Rp16.826). Angka itu disebut setara dengan gabungan ekonomi Jerman, Jepang, India, Inggris, dan Italia. Skala ekonomi yang besar ini dinilai menjadi fondasi bagi China untuk menghadapi berbagai risiko sekaligus menjaga momentum positif dalam jangka panjang.
Pada tingkat kota, Beijing dan Shanghai masing-masing mencatat PDB melampaui 5 triliun yuan atau sekitar 720 miliar dolar AS, yang disebut kira-kira setara dengan ukuran ekonomi Argentina. Capaian tersebut menyoroti dampak urbanisasi, pengelompokan industri, serta pembangunan berkualitas tinggi.
Di balik perbandingan laju pertumbuhan, peningkatan absolut, dan besaran PDB di tingkat nasional maupun daerah, terdapat dukungan dari pasar domestik yang luas, fondasi sistem industri yang lengkap, serta percepatan pelepasan potensi yang didorong oleh inovasi.
Dalam situasi perekonomian global yang membutuhkan stabilitas, kepastian, dan sumber pertumbuhan baru, perekonomian China disebut terus bergerak dengan pijakan yang stabil sembari memperluas kontribusinya bagi ekonomi dunia, sehingga dinilai dapat menambah keyakinan dan momentum bagi pertumbuhan global.

