Suara teriakan minta tolong dan gemuruh tanah longsor masih terngiang di telinga Tanu (48), warga Kampung Babakan RT 05 RW 11, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Ia menjadi salah satu korban selamat dalam peristiwa longsor yang meratakan kampungnya pada Sabtu dini hari, 24 Januari 2026.
Tanu mengingat hujan turun tanpa henti selama tiga hari sebelum kejadian. Menjelang tengah malam, ia merasakan getaran yang awalnya pelan namun terus berlanjut. Tak lama kemudian, ia mendengar suara gemuruh disertai teriakan minta tolong dari arah rumah keluarganya yang berada tepat di atas rumahnya.
“Uwa tolong wa, wa tolong wa,” kata Tanu menirukan teriakan yang ia dengar. Suara itu sempat menghilang, muncul kembali sebentar, lalu lenyap lagi. Saat keluar rumah, ia melihat tetangga sudah berlarian sambil berteriak meminta pertolongan. Dari situ Tanu menyadari, suara tersebut adalah suara adiknya.
Dalam situasi kacau, gelap, dan hujan deras, Tanu hanya sempat menyelamatkan istri serta dua anaknya yang berusia 7 dan 17 tahun. Bersama keluarga dan tetangga, mereka berlari menuju Kantor Desa Pasirlangu yang kini dijadikan posko pengungsian.
Tanu mengatakan sempat melihat adiknya berlindung di sekitar kandang sapi. Namun hingga pagi hari setelah kejadian, adiknya belum ditemukan. Ia menyebut longsor berlangsung sangat cepat sehingga ia tidak sempat memberikan pertolongan. “Saya lihat pas kejadian. Tapi bagaimana, saya di kondisi itu gak bisa berbuat apa-apa, bingung,” ujarnya.
Hingga saat ini, Tanu masih kehilangan tujuh anggota keluarganya, terdiri dari enam saudara kandung dan satu mertua. Ia menyebut total saudara kandungnya berjumlah sembilan, dan enam di antaranya belum ditemukan, ditambah mertuanya yang juga masih hilang.
Selain kehilangan keluarga, Tanu juga kehilangan 28 ekor kambing yang menjadi sumber penghidupan sebagai peternak. Seluruh kambing tersebut tertimbun longsor. Menurutnya, kambing-kambing itu rencananya akan dijual dan sebagian sudah ada pemesan dari Cimahi.
Tanu memperkirakan kerugian dari ternaknya mencapai sekitar Rp 84 juta. Kambing-kambing tersebut sebelumnya disiapkan untuk penjualan menjelang Idul Adha, namun kini hilang tertutup lumpur dan batu.

