Jakarta — Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) merilis hasil Annual Members Survey (AMS) 2024–2025 yang menyoroti masih tingginya ancaman keamanan siber dan penipuan (scam) di industri fintech lending. Laporan ini juga memotret tantangan pemerataan pengguna, tingkat literasi keuangan digital, hingga pergeseran strategi bisnis pelaku industri.
Berdasarkan survei tersebut, phishing tercatat sebagai jenis serangan siber yang paling umum dialami perusahaan fintech pada 2025. Sebanyak 27,12 persen perusahaan melaporkan mengalami phishing, meski angka ini menurun dibanding 2024 yang mencapai 33,59 persen.
Namun, tantangan terbesar dinilai berasal dari luar perusahaan. Sebanyak 82,98 persen responden menyebut fraud eksternal sebagai ancaman dominan, baik yang melibatkan konsumen, sindikat kejahatan siber, maupun pihak ketiga.
Di sisi pengguna, AMS 2024–2025 menemukan konsentrasi pemanfaatan layanan fintech masih kuat di wilayah Jabodetabek. Sebanyak 73,77 persen pengguna berada di kawasan tersebut, yang menunjukkan penetrasi layanan di luar wilayah metropolitan masih terbatas. Mayoritas pengguna berasal dari kelompok berpendapatan menengah, yakni Rp5–10 juta.
Sementara itu, kelompok berpenghasilan rendah pada kisaran Rp0–5 juta disebut masih menghadapi hambatan akses terhadap layanan keuangan. Temuan ini menegaskan pentingnya perluasan inklusi keuangan digital agar lebih merata.
Survei juga mencatat edukasi dan literasi keuangan digital menunjukkan tren peningkatan, tetapi dinilai belum sepenuhnya sejalan dengan ekspansi produk dan inovasi fintech. Sebanyak 43,44 persen perusahaan menjadikan literasi sebagai program utama dalam perlindungan konsumen. Meski demikian, 59,02 persen pelaku industri masih menilai rendahnya literasi sebagai tantangan terbesar dalam mendorong inklusi keuangan.
Ketua Umum AFTECH Pandu Sjahrir menyebut temuan AMS 2024–2025 menjadi cermin bagi arah perkembangan industri fintech nasional. Ia menilai industri telah memasuki fase maturing dengan fokus memastikan inovasi berjalan seiring tata kelola dan perlindungan konsumen yang kuat serta memberi dampak bagi sektor riil dan masyarakat luas.
Optimisme pelaku industri juga tercermin dari perubahan fokus bisnis. Pada 2025, sebanyak 43,4 persen perusahaan fintech memilih tidak lagi aktif mencari pendanaan eksternal, meningkat dari 38,9 persen pada 2024. Perubahan ini dibaca sebagai pergeseran perhatian ke optimalisasi internal dan pencapaian profitabilitas.
Transformasi model bisnis turut terlihat dari peningkatan porsi pengguna utama di segmen business-to-business (B2B). Proporsinya naik dari 27,48 persen pada 2024 menjadi 50 persen pada 2025, yang menunjukkan meningkatnya kepercayaan sektor korporasi terhadap fintech sebagai mitra transformasi digital.
Ekspansi global juga menguat. Perusahaan yang melayani pengguna internasional meningkat dari 56 persen pada 2024 menjadi 64 persen pada 2025.
Sekretaris Jenderal AFTECH Firlie Ganinduto menyatakan survei tersebut memberikan gambaran peluang sekaligus tantangan industri. Ia menyoroti adanya progres dalam tata kelola, keamanan, dan kapabilitas teknologi, namun masih terdapat kesenjangan yang perlu dijembatani. Ke depan, AFTECH menargetkan penguatan governance untuk meningkatkan trust dan confidence di industri digital, dengan kolaborasi lintas sektor sebagai kunci.

