Neraca perdagangan Indonesia kembali mencatat surplus pada Oktober 2025. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan surplus perdagangan mencapai US$2,39 miliar, melanjutkan tren positif setelah surplus pada September 2025 yang tercatat US$4,34 miliar.
Bank Indonesia (BI) menilai keberlanjutan surplus tersebut menjadi fondasi penting untuk menjaga ketahanan eksternal di tengah dinamika global. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan surplus perdagangan yang berlanjut memberi sinyal positif bagi perekonomian, karena membantu memperkuat stabilitas neraca pembayaran dan mendukung prospek ekonomi ke depan.
Menurut BI, surplus pada Oktober 2025 terutama ditopang kinerja perdagangan nonmigas yang mencatat surplus US$4,31 miliar. Ekspor nonmigas tercatat US$23,34 miliar, didukung komoditas berbasis sumber daya alam serta produk manufaktur berorientasi ekspor.
Ramdan menyebut kombinasi komoditas primer dan manufaktur menunjukkan struktur ekspor Indonesia yang semakin beragam. Ia merinci, ekspor nonmigas ditopang produk berbasis sumber daya alam seperti minyak nabati dan bahan bakar mineral, serta produk manufaktur seperti mesin, perangkat elektrik, dan produk kimia.
Dari sisi tujuan ekspor, Tiongkok, Amerika Serikat, dan India masih menjadi pasar utama. BI menilai permintaan dari mitra dagang tersebut tetap solid dan memberi kontribusi signifikan terhadap kinerja ekspor Indonesia.
Di sisi lain, komponen migas masih menjadi tantangan. Pada Oktober 2025, neraca perdagangan migas mencatat defisit US$1,92 miliar, lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya. Kondisi ini dipicu meningkatnya impor migas di saat ekspor migas menurun.
Ramdan menilai dinamika pada migas perlu diantisipasi melalui langkah strategis lintas kementerian dan lembaga, termasuk pengelolaan dengan bauran kebijakan yang komprehensif. Meski demikian, ia menekankan surplus nonmigas masih mampu menutup defisit migas.
BI juga menyatakan terus memantau perkembangan perdagangan global, harga komoditas energi, serta dinamika geopolitik yang dapat memengaruhi kinerja neraca migas. Ke depan, BI menilai kesinambungan surplus perdagangan menjadi modal penting menghadapi ketidakpastian global pada 2026, dengan penguatan bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan pendalaman pasar keuangan.
Ramdan menegaskan BI akan memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas lain untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan, seraya menyatakan optimisme bahwa tren positif perdagangan dapat berlanjut jika dukungan kebijakan dan daya saing ekspor tetap terjaga.

