BERITA TERKINI
Surplus Dagang China Cetak Rekor US$1,19 Triliun pada 2025, Ekspor ke AS Tertekan

Surplus Dagang China Cetak Rekor US$1,19 Triliun pada 2025, Ekspor ke AS Tertekan

BEIJING — Surplus perdagangan tahunan China melonjak ke level tertinggi sepanjang sejarah pada 2025, didorong kinerja ekspor yang lebih kuat dari perkiraan pada Desember serta tren impor yang membaik dalam tiga bulan terakhir. Namun, di saat yang sama, perdagangan China dengan Amerika Serikat (AS) menunjukkan pelemahan tajam.

Data bea cukai China yang dirilis Rabu (14/1/2026) menunjukkan ekspor China pada Desember naik 6,6% secara tahunan dalam denominasi dolar AS. Angka ini melampaui estimasi median analis sebesar 3% dan lebih tinggi dibanding pertumbuhan 5,9% pada November.

Di sisi lain, impor pada Desember meningkat 5,7% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan ini juga melampaui perkiraan pertumbuhan 0,9% dan menjadi yang terkuat sejak September tahun lalu, ketika impor tercatat naik 7,4%.

Secara keseluruhan sepanjang 2025, ekspor China tumbuh 5,5% sementara impor stagnan. Kondisi tersebut mendorong surplus perdagangan China menjadi US$1,19 triliun, naik 20% dibandingkan 2024.

Meski demikian, perdagangan dengan AS melemah signifikan. Pengiriman China ke AS anjlok 30% pada Desember dibandingkan setahun sebelumnya dan tercatat turun untuk bulan kesembilan berturut-turut. Pada periode yang sama, impor China dari AS turun 29%.

Mencerminkan ketegangan tarif sepanjang 2025, ekspor China ke AS turun 20% dalam setahun, sementara impor dari AS merosot 14,6%.

Juru bicara otoritas bea cukai China, Lv Daliang, mengatakan hubungan dagang dengan AS seharusnya bersifat saling menguntungkan. Ia menekankan perlunya dialog dan negosiasi untuk menyelesaikan permasalahan serta memperluas kerja sama.

Seiring eksportir China meningkatkan pengiriman ke pasar di luar AS, ketidakseimbangan perdagangan yang membesar memicu kekhawatiran mitra dagang utama, termasuk Uni Eropa. Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva pada konferensi pers Desember mendesak Beijing mengurangi ketergantungan pada ekspor sebagai sumber pertumbuhan dan mempercepat upaya mendorong konsumsi domestik.

Kekhawatiran serupa disampaikan peneliti senior Brookings Institution, Eswar Prasad, yang menilai surplus perdagangan China berpotensi memberi dampak merusak terhadap sistem perdagangan global. Ia juga memperingatkan negara-negara lain kemungkinan akan membangun hambatan perdagangan untuk melindungi ekonomi mereka.

Para pejabat China pada Desember menyatakan komitmen untuk memperluas impor dan menyeimbangkan perdagangan. Pada Desember, ekspor China ke Uni Eropa dan negara-negara ASEAN masing-masing naik 12% dan 11%. Sementara itu, impor dari Eropa meningkat 18%, sedangkan impor dari negara-negara Asia Tenggara turun 5%.

Di dalam negeri, ekonomi China yang hampir bernilai US$19 triliun masih menghadapi tekanan deflasi. Krisis properti yang kian dalam membebani permintaan rumah tangga, sementara pasar tenaga kerja yang lemah menekan kepercayaan konsumen. Sepanjang 2025, harga konsumen dilaporkan stagnan, di bawah target resmi kenaikan sekitar 2%.

Presiden dan kepala ekonom Pinpoint Asset Management, Zhiwei Zhang, memperkirakan Beijing akan mempertahankan sikap kebijakan makro setidaknya hingga kuartal pertama. Menurutnya, ekspor yang kuat membantu meredam lemahnya permintaan domestik, sementara ketegangan perdagangan dengan AS disebut telah mereda.

Pada Oktober, China dan AS sepakat mencabut sebagian langkah pengendalian ekspor serta tarif tinggi dalam gencatan dagang selama satu tahun, menyusul pertemuan Presiden China Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump. Beijing juga berjanji membeli sedikitnya 12 juta ton kedelai AS dalam dua bulan berikutnya.

Data resmi menunjukkan China membeli 111,8 juta ton kedelai pada 2025, naik 6,5% dibandingkan 2024. Namun pada Desember, impor kedelai hanya naik 1,3% menjadi 8 juta ton.

Selain itu, ekspor logam tanah jarang China naik 32% pada Desember menjadi 4.392 ton. Sepanjang 2025, pengiriman mineral strategis tersebut meningkat 12,9% dibandingkan tahun sebelumnya.

China dijadwalkan merilis data produk domestik bruto (PDB) tahunan dan kuartal IV pada Senin depan. Survei ekonom memperkirakan ekonomi terbesar kedua dunia itu tumbuh 4,5% pada kuartal terakhir, sementara target pertumbuhan 2025 dipatok di kisaran 5%.