JAKARTA — Ketimpangan distribusi pangan di pasar tradisional dinilai kerap memicu lonjakan inflasi, meski data menunjukkan produksi sejumlah komoditas berada dalam kondisi surplus. Situasi ini menjadi tantangan bagi pemerintah dalam menjaga stabilitas harga, terutama menjelang perayaan Idulfitri.
Pemerintah menekankan kelancaran distribusi dari hulu agar stok tidak menumpuk di gudang dan pada akhirnya merugikan produsen maupun konsumen. Dalam konteks ini, neraca pangan nasional digunakan sebagai dasar perhitungan untuk menekan risiko inflasi sekaligus menjaga keseimbangan harga.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan ketersediaan pangan nasional saat ini sangat mencukupi. Berdasarkan laporan tertulis pada Senin (23/3/2026), cadangan beras pemerintah di gudang Bulog tercatat sekitar 4,09 juta ton. Angka tersebut disebut ditopang oleh pasokan beras yang beredar di masyarakat sekitar 11 hingga 12 juta ton.
Selain itu, potensi panen dalam waktu dekat diproyeksikan menambah pasokan pangan segar sekitar 12 juta ton ke pasar domestik. Dengan perhitungan akumulatif, total kekuatan pasokan beras nasional disebut mencapai 28 juta ton, setara dengan ketahanan pangan hingga 11 bulan.
Peningkatan produksi dikaitkan dengan panen raya di berbagai daerah. Kebutuhan beras bulanan masyarakat tercatat stabil di kisaran 2,59 juta ton pada periode awal tahun ini, sementara kapasitas produksi bulanan domestik bergerak fluktuatif pada rentang 2,6 hingga 5,7 juta ton. Kondisi tersebut dinilai menempatkan neraca produksi beras nasional di atas kebutuhan konsumsi.
Data neraca pangan nasional hingga April 2026 juga mencatat sejumlah komoditas strategis berada dalam posisi surplus. Ketersediaan beras diproyeksikan mencapai 27,5 juta ton, sedangkan kebutuhan riil masyarakat sekitar 10,3 juta ton, sehingga surplus neraca beras tercatat 17,2 juta ton.
Pada komoditas hortikultura, ketersediaan cabai rawit nasional dilaporkan mencapai 409 ribu ton dengan kebutuhan 304 ribu ton, menghasilkan surplus 105 ribu ton. Produksi bawang merah tercatat memiliki ketersediaan 479 ribu ton dengan kebutuhan 422 ribu ton, atau surplus 57 ribu ton.
Komoditas daging ayam juga dilaporkan surplus 727 ribu ton, dengan ketersediaan 2,07 juta ton dan kebutuhan 1,34 juta ton. Secara khusus pada Maret 2026, neraca cabai rawit merah tercatat surplus 46.868 ton, sementara cabai besar surplus 8.282 ton.
Meski pasokan disebut melimpah, pemerintah menilai pengawasan distribusi tetap menjadi faktor penentu agar stabilitas harga terjaga. Amran menegaskan pemerintah berkewajiban menjaga titik keseimbangan harga agar tidak merugikan pihak manapun. Harga yang terlalu tinggi dinilai memberatkan daya beli masyarakat, sementara harga yang jatuh terlalu rendah dapat menekan pendapatan petani.
Karena itu, pengawasan distribusi lintas sektor disebut perlu dilakukan secara ketat dan terintegrasi dari hulu ke hilir. Langkah ini diarahkan untuk mencegah praktik penimbunan ilegal dan permainan harga oleh spekulan, sekaligus memastikan seluruh pelaku dalam rantai pasok memperoleh keuntungan yang adil menjelang Idulfitri.