Pertemuan ke-13 Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral ASEAN (ASEAN Finance Ministers' and Central Bank Governors' Meeting/AFMGM) menyiapkan langkah-langkah kebijakan untuk mengantisipasi perkembangan geopolitik di Timur Tengah.
Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Filianingsih Hendarta mengatakan kawasan ASEAN saat ini menghadapi beragam tekanan global, mulai dari ketegangan geopolitik, volatilitas arus modal, hingga tantangan perubahan iklim.
Dalam pertemuan tersebut, para anggota menyepakati sejumlah langkah strategis untuk meningkatkan efektivitas kerja sama keuangan regional. Langkah itu mencakup penguatan pasar keuangan, percepatan konektivitas sistem pembayaran lintas negara, serta peningkatan kesehatan finansial masyarakat.
Sebagai bagian dari penguatan kerja sama, ASEAN telah menyusun Finance Sectoral Plan 2026–2030 sebagai acuan menuju ASEAN Community Vision 2045. ASEAN juga menerapkan inisiatif Project Revive untuk memperbaiki tata kelola, struktur, dan proses kerja sama sektor keuangan.
Filianingsih menekankan keberhasilan Project Revive bergantung pada komitmen seluruh anggota ASEAN, termasuk memastikan kerangka kerja sama baru dapat menjadi wadah yang efektif untuk membahas isu strategis seperti ekonomi makro, stabilitas sistem keuangan, dan risiko kawasan. Pernyataan itu disampaikan dalam keterangan resmi pada Senin (13/4).
Pertemuan juga menyepakati tiga langkah prioritas ekonomi atau Priority Economic Deliverables (PEDs) pada jalur keuangan dan bank sentral di bawah Keketuaan Filipina tahun 2026. Tiga prioritas tersebut meliputi penguatan pasar modal yang berkelanjutan dan tangguh, percepatan konektivitas pembayaran regional, serta penguatan kesehatan finansial sebagai dimensi baru inklusi keuangan.
Menurut Filianingsih, inisiatif tersebut diharapkan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif, memperluas akses keuangan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di kawasan.
Dalam konteks integrasi keuangan, ASEAN mencatat sejumlah capaian, antara lain penyempurnaan ASEAN Banking Integration Framework (ABIF) melalui Guidelines 2.0, penguatan kerangka Capital Account Liberalisation (CAL), serta perluasan implementasi Local Currency Transaction (LCT).
ASEAN juga menyambut kesepakatan ASEAN Swap Arrangement (ASA) yang baru sebagai bagian dari penguatan jaring pengaman keuangan kawasan untuk menjaga stabilitas ekonomi dan keuangan.
Di sisi sistem pembayaran, konektivitas lintas batas dilaporkan terus meningkat dan berperan dalam mendorong inklusi keuangan. Pada saat yang sama, kerja sama turut diperkuat untuk menjaga keamanan sistem dari risiko penipuan (fraud) dan scam.
Sementara pada agenda pembiayaan berkelanjutan, ASEAN mendorong mobilisasi pendanaan publik dan swasta, peningkatan akses pembiayaan iklim, serta penguatan kapasitas negara anggota guna mendukung transisi menuju ekonomi rendah karbon.