Sejumlah ahli memperingatkan bahwa model ekonomi yang selama ini digunakan pemerintah dan lembaga keuangan dinilai tidak memadai untuk membaca dampak krisis iklim yang kian cepat. Sebuah studi terbaru menyebut kekeliruan pendekatan tersebut berpotensi mendorong risiko kehancuran finansial berskala global.
Para peneliti menyoroti bahwa ketika pemanasan global mencapai 2 derajat Celsius, risiko bencana cuaca ekstrem dan terjadinya titik kritis iklim meningkat dengan cepat. Namun, menurut mereka, model ekonomi saat ini tidak memperhitungkan guncangan besar yang dapat muncul dari kondisi tersebut.
Studi itu menekankan bahaya titik kritis iklim, seperti potensi runtuhnya arus Atlantik yang dinilai krusial atau perubahan besar pada lapisan es Greenland. Peristiwa semacam ini disebut dapat menimbulkan konsekuensi global bagi masyarakat. Beberapa titik kritis diperkirakan sudah berada pada, atau sangat dekat dengan, ambang batasnya, meski waktu terjadinya sulit diprediksi.
Peneliti dari Universitas Exeter dan lembaga pemikir keuangan Carbon Tracker Initiative juga mengingatkan bahwa gabungan bencana cuaca ekstrem dapat menghapus perekonomian suatu negara. Karena itu, laporan tersebut menyimpulkan pemerintah, regulator, dan manajer keuangan perlu memberikan perhatian lebih besar terhadap dampak besar yang berpotensi terjadi.
Meski demikian, para peneliti menilai risiko yang mungkin muncul dapat ditekan. Mereka menyatakan bahwa menghindari dampak yang tidak dapat diubah melalui pengurangan emisi karbon jauh lebih murah dibandingkan mencoba menanganinya setelah terjadi.

