Ketidakpastian ekonomi global yang dipengaruhi faktor makro, geopolitik, serta arah kebijakan moneter dunia mendorong investor untuk lebih disiplin menyusun portofolio sesuai profil risiko dan tujuan investasi. Indonesia’s Head of Research DBS Group, William Simadiputra, menekankan pentingnya menyesuaikan pendekatan investasi dengan karakter risiko masing-masing investor.
Untuk investor konservatif, William menilai fokus utama tetap pada obligasi berkualitas tinggi karena selaras dengan profil risiko yang rendah. Sementara bagi investor moderat, strategi yang dapat dipertimbangkan adalah mengombinasikan instrumen ekuitas dan obligasi melalui pendekatan barbel.
Di tengah situasi yang dinilai masih penuh ketidakpastian, William menyebut porsi diversifikasi ke emas menjadi lebih besar untuk investor moderat. Dalam media briefing, Rabu (4/2/2026), ia mengatakan komponen emas dapat ditempatkan di atas 50% hingga 60% dalam portofolio investor moderat.
Adapun untuk investor agresif, DBS menilai saham-saham Asia menarik untuk dicermati. Di Indonesia, William menyarankan alokasi saham minimal 30%, sementara sisanya dapat ditempatkan pada instrumen fixed income dan emas sebagai penyeimbang risiko.
William juga menyoroti sektor konsumer yang dinilai belum menunjukkan momentum pemulihan kuat, meski memasuki periode Ramadan dan Idulfitri yang biasanya mendorong konsumsi. Kondisi tersebut mencerminkan pemulihan konsumsi yang belum signifikan. Ia menilai sebagian pelaku pasar cenderung menunggu hasil atau angka pada kuartal I 2026.
Meski demikian, William melihat peluang positioning pada saham sektor konsumer di awal tahun, mengingat valuasinya dinilai relatif murah sehingga menawarkan keseimbangan risiko dan potensi imbal hasil. Ia menambahkan, minat pasar saat ini terlihat lebih banyak mengarah ke sektor komoditas, didorong antara lain oleh harga emas serta ekspektasi kenaikan harga nikel, ditambah harga minyak yang relatif stabil.
Dari sisi strategi perdagangan saham, Head of Research OCBC Sekuritas, Budi Rustanto, menilai volatilitas pasar justru membuka peluang akumulasi pada saham dengan fundamental kuat dan valuasi rendah. Ia menyebut saham berkapitalisasi besar, khususnya yang masuk indeks LQ45, berpotensi memiliki momentum lebih kuat.
OCBC Sekuritas merekomendasikan strategi buy on weakness ketimbang akumulasi agresif, terutama pada saham perbankan dan komoditas logam seperti NCKL, MBMA, dan TINS yang dinilai memiliki dukungan valuasi.
Sementara itu, DBS juga mengingatkan adanya potensi risiko di sektor teknologi. William menilai sektor ini menjadi salah satu pendorong pertumbuhan global, terutama di Amerika Serikat, seiring lonjakan investasi pada pusat data dan perangkat keras untuk mendukung model bahasa besar (LLM). Namun, ia mengingatkan lonjakan tersebut berisiko memunculkan “gelembung AI” jika ekspektasi pertumbuhan melampaui fundamental bisnis.
Dalam konteks ini, investor disarankan lebih selektif dengan berfokus pada perusahaan yang mampu mengadopsi teknologi untuk meningkatkan efisiensi operasional, bukan semata pemain AI murni.
Di kawasan Asia, peluang pertumbuhan dinilai muncul secara selektif seiring meredanya ketidakpastian perdagangan dan menguatnya perdagangan intra-regional. Pasar komoditas juga diperkirakan memasuki fase yang lebih konstruktif menuju 2026, didorong ekspektasi penurunan suku bunga dan meredanya ketegangan dagang.
Meski tarif disebut masih bertahan, logam industri seperti tembaga dan rare earth elements dinilai berada pada posisi strategis karena perannya yang krusial dalam ekonomi global. Di sisi lain, tren kenaikan jangka panjang emas dipandang tetap solid sebagai aset lindung nilai, didukung tekanan monetasi, ketidakpastian global, serta diversifikasi cadangan devisa bank sentral.
Di tengah dinamika global tersebut, DBS menilai fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat. Permintaan domestik disebut masih menjadi pendorong utama pertumbuhan, inflasi yang terkendali memberi ruang bagi Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas moneter, dan konsolidasi fiskal memperkuat ketahanan ekonomi nasional.
William menyatakan kondisi ini membuka peluang pada sektor yang ditopang konsumsi domestik, termasuk ritel dan e-commerce, seiring meningkatnya adopsi digital masyarakat. Ia juga menyoroti percepatan pembangunan infrastruktur, terutama di sektor energi terbarukan, sebagai peluang investasi jangka panjang yang sejalan dengan agenda transisi energi nasional.

