BERITA TERKINI
Sri Mulyani: Penguatan Dolar Berdampak Ganda bagi Rupiah dan Inflasi, Pemerintah Jaga Stabilitas

Sri Mulyani: Penguatan Dolar Berdampak Ganda bagi Rupiah dan Inflasi, Pemerintah Jaga Stabilitas

JAKARTA, 22 April 2024 — Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan bahwa penguatan dolar Amerika Serikat memberi dampak ganda terhadap perekonomian Indonesia, termasuk pada nilai tukar rupiah dan potensi tekanan inflasi. Pernyataan itu disampaikan Sri Mulyani saat berbicara di Bloomberg TV dalam segmen Bloomberg Markets The Close pada Jumat (19/4), di sela agenda kunjungannya di Washington, D.C., Amerika Serikat.

Menurut Sri Mulyani, perkembangan situasi global saat ini berpengaruh terhadap Indonesia. Ia menjelaskan, dari sisi ekspor, penguatan dolar dapat meningkatkan penerimaan karena nilai tukar yang lebih menguntungkan. Namun, dari sisi impor, konversi harga dalam dolar ke rupiah menjadi lebih tinggi sehingga berpotensi mendorong inflasi.

“Situasi global yang berkembang saat ini pasti berdampak pada perekonomian Indonesia. Di sisi ekspor, penerimaan akan jauh lebih baik dengan nilai tukar dolar yang menguat. Namun, di sisi impor, konversi harga dolar terhadap rupiah akan lebih tinggi dan bisa berdampak pada inflasi di Indonesia,” kata Sri Mulyani.

Dalam menghadapi kondisi tersebut, pemerintah disebut terus mengantisipasi dan meningkatkan kewaspadaan terhadap dinamika global. Sri Mulyani menyatakan keyakinannya bahwa Indonesia akan tetap resilien.

Ia menegaskan, stabilitas ekonomi makro akan dijaga melalui kebijakan moneter dan fiskal. Pemerintah juga terus berkoordinasi dengan Bank Indonesia untuk beradaptasi terhadap tekanan yang terjadi. Dari sisi fiskal, Sri Mulyani menyebut pemerintah memastikan APBN tetap berfungsi sebagai peredam guncangan (shock absorber) yang efektif dan kredibel.

“Stabilitas ekonomi makro akan senantiasa dijaga, baik dari sisi moneter maupun fiskal. Koordinasi dengan Bank Indonesia terus dilakukan untuk beradaptasi dengan tekanan yang ada. Dari sisi fiskal, kita memastikan APBN berperan menjadi shock absorber yang efektif dan kredibel,” ujarnya.

Sri Mulyani juga menyampaikan optimisme bahwa perekonomian Indonesia akan tetap tumbuh resilien di kisaran 5%. Ia menambahkan, optimisme serupa juga dirasakan ketika Indonesia menghadapi krisis pada masa pandemi Covid-19.