BERITA TERKINI
Sektor Kimia, Farmasi, dan Tekstil Pacu Investasi; Ekspor 2022 Tembus USD53,97 Miliar

Sektor Kimia, Farmasi, dan Tekstil Pacu Investasi; Ekspor 2022 Tembus USD53,97 Miliar

Industri kimia, farmasi, dan tekstil (IKFT) terus didorong untuk memperkuat kontribusinya terhadap perekonomian nasional. Pada triwulan I 2023, sektor IKFT menyumbang 3,88 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal IKFT Kementerian Perindustrian, Ignatius Warsito, menyampaikan nilai ekspor sektor IKFT sepanjang 2022 mencapai USD53,97 miliar. Angka tersebut meningkat dibandingkan 2021 yang disebut sebesar Rp49,21 miliar. Adapun penopang ekspor terbesar antara lain industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia sebesar USD21,41 miliar serta industri pakaian jadi sebesar USD9,69 miliar.

Pada triwulan I 2023, nilai pengapalan terbesar dari sektor IKFT berasal dari industri kimia dan barang dari kimia yang mencapai USD4,28 miliar. Berikutnya industri pakaian jadi sebesar USD2,03 miliar, industri kulit dan alas kaki USD1,94 miliar, industri barang karet dan plastik USD1,68 miliar, industri tekstil USD934,72 juta, industri bahan galian non logam USD306 juta, serta industri farmasi dan obat tradisional USD175 juta. Total ekspor sektor IKFT selama tiga bulan pertama 2023 tercatat lebih dari USD11,35 miliar.

Dari sisi investasi, Warsito menyebut realisasi investasi sektor IKFT pada 2022 mencapai Rp106,12 triliun, meningkat dibandingkan 2021 sebesar Rp66,50 triliun. Hingga triwulan I 2023, investasi sektor IKFT tercatat Rp33,78 triliun, dengan dominasi investasi industri bahan kimia dan barang kimia sebesar Rp16,29 triliun, disusul industri karet serta barang dari karet dan plastik sebesar Rp4,50 triliun.

Warsito menambahkan, kinerja sektor IKFT turut mendorong Indeks Kepercayaan Industri (IKI) berada pada fase ekspansi. Pada Mei 2023, IKI tercatat 50,90. IKI dihitung berdasarkan tiga variabel, yakni pesanan, produksi, dan persediaan. Nilai indeks di atas 50 menunjukkan kondisi ekspansi atau optimistis, sedangkan di bawah 50 menandakan kontraksi.

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, Kementerian Perindustrian memandang perlu pemantauan kondisi industri sebagai penopang utama ekonomi nasional. Salah satu upaya yang dilakukan adalah memperoleh informasi terkini melalui survei IKI.

Direktur Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki Kemenperin, Adie Rochmanto Pandiangan, menyatakan industri tekstil dan produk tekstil (TPT) termasuk kelompok industri pengolahan nonmigas yang dikategorikan strategis dan prioritas nasional sesuai Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN). Meski dipengaruhi ketidakpastian pasar global di Amerika Serikat dan Eropa, ia menilai kepercayaan terhadap masa depan industri tekstil masih tinggi.

Adie juga mencatat investasi di industri TPT meningkat lebih dari dua kali lipat, dari Rp3,85 triliun pada triwulan I 2022 menjadi Rp7,8 triliun pada triwulan I 2023.

Sementara itu, Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) memproyeksikan ekspansi kapasitas anggota sebesar 75 juta meter persegi berjalan sesuai rencana, baik untuk industri di Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, maupun wilayah Jawa. Industri keramik juga direncanakan hadir di Jawa Tengah melalui pembangunan dua pabrik baru di Kendal dan Batang.

Ketua Umum Asaki Edy Suyanto mengatakan pemerataan pasokan keramik diharapkan terjadi seiring tambahan kapasitas tersebut, mengingat selama ini pasokan banyak dilayani industri yang mayoritas berada di Jawa bagian Barat dan Timur. Ia memproyeksikan penambahan total kapasitas 75 juta meter persegi rampung pada akhir 2024. Menurutnya, angka itu setara 102 persen dari impor keramik per tahun, berpotensi menyerap 10.000 tenaga kerja baru, serta menempatkan Indonesia pada posisi nomor empat produsen keramik terbesar dunia setelah China, India, dan Brazil.

Di sektor kimia, Kemenperin juga mengapresiasi beroperasinya pabrik baru PT Nippon Shokubai Indonesia yang memproduksi Acrylic Acid dan Acrylic Esters, bahan kimia intermediate yang digunakan luas, antara lain untuk bahan baku industri emulsi, polimer dan resin, akrilik fiber, serta poliolefin kopolimer.

Penambahan kapasitas Acrylic Acid sebesar 100 ribu ton per tahun membuat total kapasitas Acrylic Acid perusahaan tersebut menjadi 240 ribu ton per tahun. Penambahan kapasitas ini disebut berkontribusi menjaga pasokan dalam negeri untuk mengantisipasi peningkatan permintaan domestik, sekaligus menambah potensi pasar ekspor.