Bank Indonesia (BI) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) di level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Januari 2026. Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan kebijakan ini ditempuh untuk menjaga stabilitas makroekonomi sekaligus memastikan inflasi tetap berada dalam sasaran yang ditetapkan.
“Keputusan ini konsisten dengan fokus kebijakan saat ini, yaitu mendukung pencapaian sasaran inflasi 2026–2027 dan mendorong pertumbuhan ekonomi,” ujar Perry dalam konferensi pers virtual, Rabu (21/1/2026).
Penahanan suku bunga tersebut menjadi yang keempat berturut-turut sejak September 2025 dan disebut sebagai level terendah sejak 2022. Meski demikian, BI menilai ruang penyesuaian suku bunga masih terbuka dengan tetap mencermati dinamika global serta stabilitas pasar keuangan.
Dari sisi eksternal, tekanan terhadap perekonomian global dinilai masih kuat seiring penguatan dolar Amerika Serikat dan tingginya imbal hasil US Treasury. Kondisi ini mendorong pergeseran portofolio investor global ke aset aman dan memicu arus keluar modal dari negara berkembang, termasuk Indonesia.
BI mencatat hingga 19 Januari 2026 terjadi aliran keluar modal portofolio asing sebesar US$1,6 miliar. Sejalan dengan itu, nilai tukar rupiah pada 20 Januari 2026 melemah ke Rp16.945 per dolar AS, atau turun sekitar 1,5% dibandingkan akhir Desember 2025.
Perry menjelaskan, pelemahan rupiah juga dipengaruhi meningkatnya permintaan valuta asing dari korporasi domestik seiring aktivitas ekonomi yang tetap berjalan. Untuk meredam volatilitas, BI memperkuat langkah stabilisasi melalui intervensi di pasar spot dan non-deliverable forward (NDF), baik di pasar domestik maupun luar negeri.
“Kami melakukan stabilisasi secara terukur agar pergerakan rupiah tetap terkendali,” tegas Perry.
Langkah stabilisasi tersebut didukung cadangan devisa Indonesia yang pada akhir Desember 2025 tercatat sebesar US$156,5 miliar. Nilai ini setara pembiayaan lebih dari enam bulan impor dan berada di atas standar kecukupan internasional.
Dari sisi harga, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) sepanjang 2025 tercatat 2,92%, dengan inflasi inti 2,38%. BI menilai inflasi yang rendah serta ekspektasi inflasi yang tetap terjaga menjadi salah satu pertimbangan utama dalam mempertahankan suku bunga acuan.

