BERITA TERKINI
Rupiah Sentuh Rekor Terlemah, Pasar Soroti Isu Fiskal dan Independensi Bank Sentral

Rupiah Sentuh Rekor Terlemah, Pasar Soroti Isu Fiskal dan Independensi Bank Sentral

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mencetak rekor terlemah (all-time low) pada perdagangan intraday Selasa (20/1). Rupiah sempat melemah sekitar 0,3% ke level 16.988 per dolar AS sebelum ditutup di 16.950. Pelemahan ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap kesehatan fiskal domestik dan isu independensi bank sentral.

Sejak awal 2026, rupiah tercatat melemah 1,5% dan menjadi salah satu mata uang berkinerja terburuk di kelompok negara berkembang (emerging markets). Tren pelemahan tersebut melanjutkan pergerakan sepanjang 2025, ketika rupiah turun 3,5% terhadap dolar AS, meski indeks dolar AS (DXY) pada periode yang sama justru turun 9,4%.

Salah satu perhatian investor datang dari kabar bahwa Presiden Prabowo Subianto menominasikan keponakannya yang juga Wakil Menteri Keuangan, Thomas Djiwandono, sebagai salah satu dari tiga calon anggota Dewan Gubernur Bank Indonesia. Nominasi itu disebutkan untuk menggantikan posisi Deputi Gubernur BI Juda Agung, yang mengundurkan diri pada 13 Januari 2026. Laporan Bloomberg menilai langkah tersebut dapat memicu kekhawatiran investor terkait potensi tergerusnya otonomi bank sentral.

Dari sisi fiskal, realisasi defisit APBN 2025 tercatat 2,92% terhadap PDB, mendekati batas maksimum legal 3% dan lebih tinggi dibanding outlook APBN 2025 sebesar 2,78% terhadap PDB. Kekhawatiran mengenai independensi bank sentral dan kesehatan fiskal sebelumnya juga telah muncul sejak September 2025, ketika Bloomberg dan Reuters melaporkan DPR mempertimbangkan perluasan mandat Bank Indonesia untuk mendukung pertumbuhan ekonomi serta memberi wewenang DPR untuk merekomendasikan pemecatan gubernur BI. Selain itu, Badan Legislasi DPR memasukkan UU Keuangan Negara—yang mengatur batas defisit 3% dan batas total utang 60% terhadap PDB—ke dalam daftar regulasi yang akan ditinjau ulang pada 2026.

Menanggapi perkembangan tersebut, Bank Indonesia pada Senin (19/1) menyatakan akan tetap fokus pada tugas utamanya, termasuk stabilisasi rupiah, dan akan mengumumkan keputusan kebijakan moneter pada 21 Januari 2026. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa juga menyatakan pihaknya “tidak akan menekan bank sentral untuk membiayai program pembangunan pemerintah,” serta menilai pelemahan rupiah secara persentase relatif kecil sehingga sistem keuangan seharusnya sudah terbiasa. Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto pada pekan lalu menyebut pemerintah tidak akan menaikkan batas legal defisit anggaran dari level 3% terhadap PDB.

Pelemahan rupiah berpotensi mempersempit ruang bagi Bank Indonesia untuk menurunkan suku bunga lebih lanjut. Sepanjang 2025, BI telah memangkas suku bunga total 125 basis poin ke level 4,75%. Per Selasa (20/1), konsensus Bloomberg masih memperkirakan BI akan menurunkan suku bunga dua kali (total 50 basis poin) menjadi 4,25% selama 2026. Untuk Rapat Dewan Gubernur pada 21 Januari 2026, konsensus memperkirakan BI akan menahan suku bunga.

Di pasar keuangan, IHSG tercatat berada di level 9.135 dengan kenaikan 0,01%, sementara arus dana asing (foreign flow) tercatat keluar sebesar Rp98,2 miliar. Sejumlah komoditas bergerak bervariasi, dengan emas naik 3,14% ke 4.740, minyak menguat 0,28% ke 64,1, CPO naik 0,89% ke 4.103, dan nikel menguat 3,16% ke 18.133.