Jakarta — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada perdagangan Rabu, 21 Januari 2026, setelah sebelumnya terus melemah dan nyaris menyentuh level Rp17.000 per dolar AS.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup di level Rp16.936 per USD, menguat 20 poin atau 0,12 persen dibanding penutupan sebelumnya di Rp16.956 per USD. Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menyebut rupiah pada perdagangan sore sempat melemah sebelum berbalik menguat dan ditutup di level tersebut.
Data Yahoo Finance juga menunjukkan rupiah berada di zona penguatan pada Rp16.930 per USD. Pada penutupan perdagangan sebelumnya, rupiah tercatat di Rp16.976 per USD, sehingga penguatan tercatat 46 poin atau 0,27 persen.
Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di level Rp16.963 per USD, menguat 18 poin dari posisi sebelumnya Rp16.981 per USD.
Ibrahim menilai pergerakan rupiah hari ini turut dipengaruhi sentimen global, terutama meningkatnya ketegangan baru antara AS dan Uni Eropa terkait isu Greenland. Ia menyampaikan Presiden AS Donald Trump bersikeras “tidak ada jalan mundur” terkait Greenland dengan alasan kekhawatiran keamanan di kawasan Arktik, serta mengancam akan mengenakan tarif terhadap negara-negara Eropa.
Di sisi Eropa, Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan Eropa tidak akan tunduk pada “para pengganggu” dan menekankan bahwa hubungan antarsekutu seharusnya dibangun atas rasa hormat dan kerja sama, bukan paksaan. Pernyataan tersebut disampaikan di sela-sela Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos dan mencerminkan meningkatnya kekhawatiran di Eropa atas retorika dan ancaman perdagangan dari Washington yang terkait sengketa Greenland.
Trump, menurut Ibrahim, berupaya meredakan kekhawatiran dengan menyebut AS tengah mengupayakan solusi dan menargetkan hasil yang memuaskan NATO. Namun, investor disebut tetap berhati-hati.
Selain itu, Ibrahim menyebut penentangan Eropa terhadap upaya Trump untuk mengakuisisi Greenland dan inisiatif Dewan Perdamaian yang diusulkannya telah mengganggu rencana paket dukungan ekonomi untuk Ukraina pascaperang. Ia mengatakan pengumuman rencana kemakmuran senilai USD800 miliar yang direncanakan akan disepakati antara Ukraina, Eropa, dan AS di WEF Davos pekan ini ditunda.
Dari dalam negeri, sentimen lain datang dari kebijakan fiskal dan moneter. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pelebaran defisit fiskal menjadi 2,92 persen pada APBN 2025—mendekati ambang batas 3 persen—merupakan langkah yang disengaja untuk memacu pemulihan ekonomi nasional. Kebijakan ini disebut sebagai strategi countercyclical untuk membalikkan tren perlambatan ekonomi yang membayangi Indonesia sepanjang 2025.
Purbaya menyatakan intervensi fiskal yang agresif dibutuhkan untuk menghidupkan kembali permintaan dan penawaran domestik, serta menilai tanpa dorongan APBN yang optimal, perekonomian berisiko masuk ke fase krisis. Ia juga menyampaikan kebijakan tersebut mulai menunjukkan hasil dengan pergerakan ekonomi yang kembali ke zona positif.
Di sisi moneter, Bank Indonesia memutuskan menahan suku bunga acuan BI Rate di level 4,75 persen pada Desember 2025. Suku bunga deposit facility tetap 3,75 persen dan lending facility 5,5 persen. Ibrahim menilai keputusan tersebut konsisten untuk menjaga rupiah di tengah ketidakpastian global, sekaligus memperkuat efektivitas transmisi kebijakan moneter dan makroprudensial guna menjaga stabilitas serta mendorong perekonomian.
Meski suku bunga ditahan, Ibrahim menyebut Bank Indonesia masih menegaskan ruang penurunan suku bunga terbuka, dengan catatan penurunan akan disertai perkiraan inflasi tahun ini yang berada dalam sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen.
Untuk perdagangan Kamis, Ibrahim memperkirakan rupiah bergerak fluktuatif dan berpeluang menguat. Namun ia juga menyebut rupiah berpotensi ditutup melemah di kisaran Rp16.930 per USD hingga Rp16.950 per USD.

