BERITA TERKINI
Rupiah Melemah ke Rp 16.963 per Dolar AS, Ekonom Perkirakan BI Tahan Suku Bunga 4,75 Persen

Rupiah Melemah ke Rp 16.963 per Dolar AS, Ekonom Perkirakan BI Tahan Suku Bunga 4,75 Persen

Bank Indonesia (BI) dijadwalkan mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Januari pada Rabu (21/1). Sejumlah ekonom memperkirakan bank sentral akan mempertahankan suku bunga acuannya di level 4,75 persen, dengan fokus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan global.

Berdasarkan data Bloomberg pada pagi hari, rupiah melemah 7 poin atau 0,04 persen ke posisi Rp 16.963 per dolar AS.

Peneliti LPEM FEB UI Teuku Riefky menilai tekanan inflasi yang meningkat menjelang akhir 2025 masih berada dalam rentang target BI. Ia menekankan, dorongan inflasi terutama berasal dari sisi penawaran komoditas pangan, sementara tantangan eksternal meningkat seiring penguatan dolar AS dan bertambahnya ketidakpastian geopolitik.

Menurut Riefky, meski arus masuk portofolio masih terjadi pascapemangkasan suku bunga The Fed dan kebijakan BI yang tetap, tekanan eksternal belum sepenuhnya mereda. Dalam situasi tersebut, menjaga diferensial suku bunga dipandang penting untuk menopang kepercayaan pasar dan menahan volatilitas rupiah.

“Mempertahankan suku bunga kebijakan di 4,75 persen akan membantu menjaga perbedaan suku bunga, mendukung kepercayaan pasar, dan menahan volatilitas mata uang di tengah ketidakpastian global yang terus berlanjut,” ujarnya.

Pandangan serupa disampaikan Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede. Ia memproyeksikan BI akan menahan BI Rate karena tekanan pada rupiah masih kuat dan pasar dinilai sensitif terhadap isu fiskal. Sementara itu, indikator domestik belum menunjukkan urgensi pelonggaran tambahan melalui pemangkasan suku bunga.

Josua memaparkan, keyakinan konsumen pada Desember 2025 tetap berada di zona optimistis, penjualan ritel tumbuh solid, dan aktivitas industri pengolahan masih ekspansif. Dari sisi dunia usaha, kegiatan juga dinilai relatif terjaga. Dengan kombinasi tersebut, BI diperkirakan mempertahankan suku bunga sambil memusatkan perhatian pada stabilitas nilai tukar dan ekspektasi inflasi.

Ia menambahkan, bila BI ingin memberi dukungan tambahan bagi pertumbuhan dan penyaluran kredit saat rupiah melemah, langkah yang dinilai lebih aman dapat ditempuh melalui pelonggaran likuiditas dan penurunan biaya dana jangka pendek tanpa mengubah BI Rate, antara lain lewat pengaturan instrumen operasi pasar terbuka.