Nilai tukar rupiah sempat melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada 20 Januari 2026. Rupiah berada di level Rp 16.945 per dolar AS atau terdepresiasi 1,53 persen secara point to point dibandingkan akhir Desember 2025.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan pelemahan rupiah tidak semata-mata dipicu faktor global, tetapi juga dipengaruhi kondisi domestik. Ia menyebut meningkatnya kebutuhan valuta asing (valas) di sektor perbankan serta pengunduran diri Deputi Gubernur BI Juda Agung turut menjadi faktor yang membentuk tekanan pada nilai tukar.
Menurut Perry, tekanan terhadap rupiah terjadi seiring meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan global yang mendorong arus modal keluar dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. “Kebijakan nilai tukar Bank Indonesia terus diperkuat untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak peningkatan ketidakpastian global,” ujar Perry dalam konferensi pers RDG, dikutip Kamis (22/1).
Ia menjelaskan, faktor global masih menjadi pemicu utama tekanan terhadap rupiah. Perry menyinggung meningkatnya tensi geopolitik, kebijakan tarif Amerika Serikat, serta tingginya imbal hasil US Treasury di berbagai tenor. Kondisi tersebut mendorong penguatan dolar AS sekaligus memicu aliran modal keluar dari negara-negara berkembang.
Di sisi domestik, Perry menyebut arus modal asing keluar juga berkaitan dengan kebutuhan valas yang besar dari sejumlah korporasi, termasuk Pertamina, PLN, dan danantara. Selain itu, ia menyinggung adanya persepsi pasar terhadap kondisi fiskal serta proses pencalonan Deputi Gubernur.
Di tengah tekanan global dan domestik tersebut, Perry menegaskan komitmen BI untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Ia menyatakan, bank sentral siap melakukan intervensi secara agresif apabila diperlukan untuk meredam volatilitas pergerakan rupiah.
“Kami tegaskan BI tidak segan-segan kami melakukan intervensi dalam jumlah besar, baik di intervensi non deliverable forward, maupun di dalam negeri non deliverable forward di pasar luar negeri maupun di dalam negeri spot dan DNDF kami akan jaga stabilitas nilai tukar rupiah dan akan membawanya untuk menguat,” kata Perry.
Perry juga mengingatkan bahwa tekanan nilai tukar tidak hanya dialami Indonesia, tetapi terjadi di berbagai negara. Untuk mendukung upaya stabilisasi, BI mengandalkan cadangan devisa yang dinilai berada pada level kuat dan memadai. “Langkah-langkah stabilisasi nilai tukar rupiah yang kami tingkatkan itu juga didukung oleh kecukupan cadangan devisa. Cadangan devisa kami cukup besar dan lebih dari cukup untuk melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah,” tuturnya.

