Jakarta — Sejumlah ekonom memperkirakan Bank Indonesia (BI) akan mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) di level 4,75% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Januari 2026. Proyeksi ini didorong oleh tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang dinilai masih kuat serta meningkatnya sensitivitas pasar terhadap risiko fiskal dan kondisi global.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai ruang pemangkasan suku bunga saat ini terbatas karena rupiah masih berada dalam tekanan dan pasar tengah peka terhadap kekhawatiran fiskal. Menurut dia, di sisi lain permintaan domestik juga belum menunjukkan kebutuhan mendesak akan tambahan stimulus melalui penurunan suku bunga.
Josua merujuk sejumlah indikator yang menggambarkan aktivitas ekonomi domestik masih bertahan. Indeks keyakinan konsumen pada Desember 2025 tercatat berada di zona optimis sebesar 123,5, ditopang penilaian terhadap kondisi ekonomi saat ini 111,4 dan ekspektasi 135,6. Penjualan eceran pada November 2025 juga tumbuh 6,3% secara tahunan (year on year/yoy), sementara kinerja industri pengolahan berada pada fase ekspansi dengan PMI Bank Indonesia triwulan IV 2025 sebesar 51,86.
Dari sisi dunia usaha, Josua menyebut kondisi relatif terjaga, tercermin dari Saldo Bersih Tertimbang (SBT) 10,61 pada triwulan IV 2025 yang diperkirakan meningkat menjadi 12,93 pada triwulan I 2026. Dengan kondisi tersebut, BI diperkirakan akan menahan suku bunga sambil memprioritaskan stabilitas nilai tukar dan pengelolaan ekspektasi inflasi.
Ia juga menilai, jika BI ingin memberi dukungan tambahan bagi pertumbuhan dan penyaluran kredit, jalur yang dinilai lebih aman ketika rupiah rapuh adalah melalui pelonggaran likuiditas dan penurunan biaya dana jangka pendek tanpa mengubah BI Rate, misalnya lewat pengaturan instrumen operasi pasar terbuka.
Perkiraan serupa disampaikan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI). Ekonom makroekonomi dan pasar keuangan LPEM FEB UI, Teuku Riefky, mengatakan meski aliran modal dinilai positif dan cadangan devisa Indonesia cukup, rupiah tetap menghadapi tekanan depresiasi.
Riefky menilai tekanan tersebut terutama dipengaruhi oleh penguatan dolar AS secara global dan pergeseran sentimen risiko, bukan karena ketidakseimbangan domestik. Dalam situasi eksternal yang masih tidak pasti, ia menilai pelonggaran kebijakan moneter berisiko melemahkan jangkar kebijakan.
Menurut Riefky, penurunan suku bunga kebijakan dapat memperkecil selisih suku bunga, yang berpotensi meningkatkan volatilitas nilai tukar. Dengan The Fed diperkirakan mempertahankan suku bunga acuannya pada awal 2026, menjaga stabilitas moneter di dalam negeri dinilai semakin penting.
Ia menambahkan, mempertahankan BI Rate di 4,75% dinilai memberi ruang bagi BI untuk menyeimbangkan pengendalian inflasi dengan stabilitas eksternal. Sementara itu, intervensi yang berkelanjutan dan terarah di pasar valuta asing disebut masih diperlukan untuk meredam fluktuasi rupiah yang berlebihan.

