Rumor akuisisi PT Isra Presisi Indonesia Tbk (ISAP) oleh perusahaan nikel asal China ramai diperbincangkan di pasar dan ikut mengerek pergerakan sahamnya. Namun, hingga kini informasi yang beredar dinilai belum ditopang sumber yang jelas maupun konfirmasi resmi dari emiten ataupun otoritas bursa.
Isu ini mengemuka setelah pemberitaan Investor.id pada 17 Januari 2026 berjudul Perusahaan Nikel China Jajaki Akuisisi Isra Presisi Indonesia (ISAP). Dua hari kemudian, CNBC Indonesia menerbitkan artikel dengan narasi serupa pada 19 Januari 2026, dengan judul berbeda.
Pergerakan saham ISAP sendiri mulai menguat lebih awal. Harga saham tercatat mulai naik kencang sejak 15 Januari 2026, sekitar dua hari sebelum artikel Investor.id terbit. Saham ISAP kemudian mengalami auto reject atas (ARA) selama enam hari berturut-turut, sebelum berbalik melemah pada 23 Januari 2026.
Meski judul pemberitaan menyebut adanya penjajakan akuisisi, struktur informasi yang tersaji dinilai tidak memberikan pijakan yang kuat. Dalam artikel Investor.id, narasi utama lebih banyak merujuk pada kalimat bahwa isu berkembang di kalangan pelaku pasar seiring sentimen positif terhadap nikel, tanpa menjelaskan asal informasi, pihak yang mengetahui transaksi, atau bentuk penjajakan yang dimaksud.
Pemberitaan tersebut juga memuat pandangan analis publik Purwito Sudjatmiko yang menyampaikan gambaran umum bahwa nikel menjadi agenda strategis nasional dan emiten yang tersentuh narasi nikel kerap memperoleh perhatian, likuiditas, serta revaluasi. Namun, pernyataan itu bersifat general dan tidak menjadi bukti adanya transaksi atau proses akuisisi terhadap ISAP.
Dalam narasi yang beredar, ISAP disebut menarik karena valuasi pasar yang relatif kecil dan dianggap relevan dengan basis bisnis manufaktur logam serta engineering, sehingga dinilai berpotensi menjadi kendaraan ekspansi bisnis nikel. Ada pula penilaian bahwa mengakuisisi ISAP dinilai lebih efisien dibanding membangun entitas baru dari awal. Namun, keseluruhan argumen tersebut lebih menyerupai asumsi atau interpretasi pelaku pasar, bukan konfirmasi adanya aksi korporasi.
Artikel lanjutan di CNBC Indonesia disebut mengulang garis besar informasi sebelumnya, dengan perbedaan pada judul. Sementara itu, pada periode isu tersebut beredar, belum terlihat adanya klarifikasi melalui keterbukaan informasi yang memastikan kebenaran rumor tersebut.
Di sisi lain, ISAP tengah menjalankan proses pelaksanaan Waran Seri I yang berakhir pada 10 Desember 2027. Harga pelaksanaan waran berada di Rp125 per saham, lebih tinggi dibanding harga pasar ISAP pada 23 Januari 2026 yang tercatat Rp54 per saham.
Perhatian pasar juga tertuju pada aksi pengendali ISAP, PT Dua Putra Bersinergi, yang melakukan penjualan 2,49% saham atau setara 100 juta lembar pada 21 Januari 2026 di harga Rp50 per saham, di tengah euforia kenaikan harga.
Berdasarkan data yang tersedia, rumor akuisisi tersebut dinilai memiliki peluang rendah untuk benar-benar terjadi karena belum ada bukti kuat mengenai penjajakan. Meski demikian, arah pergerakan harga saham selanjutnya tetap dapat dipengaruhi berbagai faktor pasar. Namun, situasi yang didorong rumor tanpa validasi dinilai meningkatkan risiko fluktuasi dan risiko likuiditas, terutama jika belum ada klarifikasi resmi melalui keterbukaan informasi bursa atau sumber yang lebih terverifikasi.

