Perkembangan kawasan hunian di wilayah penyangga Jakarta mendorong perubahan peta ritel, terutama untuk kategori elektronik dan perlengkapan rumah tangga. Konsumen dinilai tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pusat perbelanjaan di pusat kota seiring tumbuhnya kawasan hunian terpadu yang memiliki kebutuhan konsumsi mandiri.
Tren tersebut mendorong pelaku ritel menempatkan gerai fisik lebih dekat dengan konsumen, sekaligus mengintegrasikannya dengan layanan digital. Pendekatan ini dipandang relevan untuk menjangkau masyarakat urban yang mengutamakan efisiensi, kemudahan akses, serta pengalaman belanja yang terintegrasi.
PT Courts Retail Indonesia (COURTS) meresmikan toko terbarunya di Bintaro Jaya Xchange Mall 1, Tangerang Selatan, sebagai bagian dari strategi memperkuat posisi di kawasan hunian penyangga Jakarta yang terus bertumbuh. CEO COURTS Indonesia Hendrianto Halim mengatakan ekspansi ke kawasan hunian seperti Bintaro merupakan penyesuaian strategi perusahaan terhadap perubahan perilaku konsumen.
“Kami melihat adanya pergeseran kebutuhan masyarakat urban yang menginginkan akses retail yang lebih dekat dengan tempat tinggal mereka. Kehadiran COURTS di Bintaro merupakan bagian dari upaya kami untuk menyesuaikan layanan dengan pola konsumsi tersebut,” ujar Hendrianto Halim, Sabtu (24/1/2026).
Di sisi lain, penguatan pasar ritel juga berkaitan dengan dinamika industri furnitur dan kayu olahan di dalam negeri. Analis Kebijakan Direktorat Industri Hasil Hutan dan Perkebunan, Direktorat Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, Yulis Anggunita Kurniasih, menyampaikan pameran solusi desain furnitur dan alat pendukung industri kayu olahan dapat berperan dalam peningkatan produktivitas industri furnitur Indonesia.
“Industri kayu olahan dan furnitur merupakan industri hilir yang produknya memiliki nilai tambah tinggi, dan industri ini secara aktif memberi dampak positif bagi perekonomian negara melalui kinerja ekspor serta pemenuhan pasar dalam negeri,” kata Yulis dalam pembukaan International Furniture Manufacturing Components and Woodworking Machinery Exhibition (IFMAC & WOODMAC), Rabu (24/9/2025).
Data Kementerian Perindustrian pada 2024 mencatat industri pengolahan kayu (KBLI 16) berkontribusi 2,25 persen terhadap PDB pengolahan nonmigas, dengan nilai ekspor mencapai USD 3,73 miliar. Sementara industri furnitur (KBLI 31) berkontribusi 1,15 persen terhadap PDB pengolahan nonmigas, dengan nilai ekspor USD 1,61 miliar.
Yulis menilai permintaan pasar terhadap produk kayu olahan ke depan masih tinggi untuk memenuhi proyek konstruksi, infrastruktur dan pembangunan industri, serta kebutuhan bahan baku bagi industri furnitur. Seiring itu, tren penggunaan furnitur juga berkembang ke arah produk ramah lingkungan, terintegrasi teknologi (smart features), desain multifungsional, modular, dan kostumisasi.
Pasar furnitur turut didukung kebutuhan sektor pariwisata dan hospitality, serta kebutuhan permukiman dan perkantoran. Dari sisi pemasaran, penggunaan teknologi 4.0 seperti Augmented Reality (AR) disebut semakin meningkat untuk mempermudah belanja furnitur secara online. Dari sisi produksi, teknologi 3D printing juga kian banyak digunakan untuk mempermudah proses desain dan menekan biaya produksi.
Meski demikian, Yulis menyoroti sejumlah tantangan ekspor furnitur Indonesia untuk memperluas pasar luar negeri, antara lain kondisi geopolitik, kebijakan pelestarian lingkungan di negara tujuan ekspor, kebijakan non-tariff barriers, tarif resiprokal Amerika (tarif Trump), meningkatnya impor furnitur, serta isu keamanan dalam berinvestasi.

