BERITA TERKINI
Relawan TurunTangan Ceritakan Kondisi Pascabanjir dan Longsor di Aceh

Relawan TurunTangan Ceritakan Kondisi Pascabanjir dan Longsor di Aceh

Dua relawan TurunTangan, Mechtidis Olivia dan Syarifah Zahra, menceritakan pengalaman mereka saat terjun langsung membantu pemulihan warga di wilayah Aceh yang terdampak banjir dan longsor. Selama sekitar satu pekan, keduanya mendampingi warga di sejumlah titik, termasuk Aceh Tamiang dan Aceh Utara.

Olivia menggambarkan kondisi di lapangan sebagai sangat memprihatinkan. Ia menyebut warga harus menjalani malam tanpa penerangan, menghadapi keterbatasan sinyal, serta mencium bau menyengat yang diduga berasal dari bangkai hewan maupun jenazah yang belum dievakuasi. Menurutnya, situasi pascabanjir yang ia saksikan langsung lebih buruk dibanding yang terlihat di media sosial.

“Ketika kita turun di Aceh Tamiang khususnya Kota Lintang itu benar-benar memprihatinkan sekali. Itu benar-benar bau bangkai, entah itu bau mayat manusia atau binatang kita sendiri enggak tau. Aku juga sempat melihat ada ibu-ibu yang melamun liat rumahnya,” kata Olivia, seperti dikutip dari tayangan di akun YouTube Podcast Cafe Pedjuang pada Minggu, 25 Januari 2026.

Di tengah kondisi serba terbatas, Olivia mengaku terharu melihat solidaritas warga. Ia menuturkan, masyarakat masih berupaya menjamu relawan, termasuk memasak dan memberikan buah yang diambil dari kebun, meski rumah mereka banyak yang rusak atau hilang.

“Warga di sana masih sangat peduli dengan kita, mereka masih sempat masak untuk kita. Kita dikasih buah mereka ambilin dari kebun. Di daerah Sawang itu tinggal kebun yang masih berdiri, rumahnya sudah habis semuanya yang tersisa hanya tanah tapi mereka masih bisa ketawa, masih bisa senyum,” ujarnya.

Menurut Olivia, pengalaman menjadi relawan di wilayah terdampak meninggalkan dampak emosional yang kuat. Ia juga menyebut warga kerap diselimuti kekhawatiran akan banjir susulan. Baginya, kegiatan kerelawanan tersebut menjadi pembelajaran berharga.

Syarifah menambahkan, salah satu desa di Aceh Utara disebut hilang akibat banjir bandang dan berubah menjadi aliran sungai baru. Ia mengatakan trauma warga cukup mendalam dan sebagian masyarakat menyatakan tidak ingin kembali ke desa tersebut, meski kelak ada bantuan pembangunan rumah.

“Ketika kita ketemu masyarakat di sana traumanya cukup mendalam. Bahkan masyarakat di sana bilang kalaupun nanti ada bantuan rumah dan sebagainya, kita tidak mau kembali ke desa itu,” kata Syarifah.

Dalam keterangannya, Syarifah juga menyampaikan penilaiannya terkait respons pemerintah pusat terhadap bencana yang terjadi pada akhir November 2025. Ia menyebut warga membandingkan penanganan bencana tersebut dengan respons saat tsunami Aceh 2004, dan menilai respons pemerintah pusat terkesan lamban.

Selama bertugas, relawan TurunTangan menyalurkan bantuan berupa air bersih dan logistik, serta menjalankan dukungan psikososial bagi anak-anak. Kegiatan dilakukan di Aceh Tamiang pada empat titik desa berbeda, kemudian berlanjut ke wilayah Sawang, Aceh Utara.

Syarifah menjelaskan, kegiatan psikososial menjadi perhatian karena disebut sebagai yang pertama dilakukan di beberapa lokasi yang mereka datangi. Ia menuturkan, banyak relawan lain lebih fokus pada penyaluran logistik tanpa pendampingan mental untuk anak-anak.

“Ketika kita sampai mereka senang bahkan mereka bilang ini kegiatan pertama kali, kegiatan kaya gini sebelumnya enggak ada cuma logistik aja. Sama halnya juga di Sawang mereka juga ternyata psikososial pertama di Sawang itu kita,” ujarnya.

Ia menambahkan, kegiatan bersama anak-anak mencakup permainan dan sesi bercerita, serta ruang diskusi dan dialog. Menurutnya, momen tersebut menjadi bagian penting dari pendampingan, selain penyaluran bantuan kebutuhan dasar.

Untuk mendukung pemulihan berkelanjutan, relawan TurunTangan juga membentuk pos pemulihan (pos recovery) di Kabupaten Bireuen. Kegiatan yang dilakukan meliputi kelas bersama anak-anak, bersih-bersih masjid dan sekolah, psikososial, serta penyaluran logistik.