Medan terjal Pegunungan Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, menjadi saksi upaya pencarian dalam tragedi jatuhnya pesawat ATR 42-500. Di lokasi yang sulit dijangkau itu, seorang relawan pencinta alam (Mapala), Achmad Kadim, tergabung dalam tim pencarian yang akhirnya menemukan black box pesawat.
Achmad Kadim, pria kelahiran Enrekang, 24 April 1986, saat ini berdomisili di Jalan Batua Raya 5 Nomor 38, Kota Makassar. Ia menjadi bagian dari Search and Rescue Unit (SRU) 1, tim yang menemukan black box pada Rabu, 21 Januari 2026, atau hari kelima operasi pencarian.
Pada hari penemuan, tim bergerak sekitar pukul 07.30 Wita dari Posko SAR Gabungan di Kantor Desa Tompobulu. Perjalanan menuju Pos 9 ditempuh hingga sekitar pukul 10.00 Wita, kemudian dilanjutkan dengan penyisiran menuju titik yang diduga menjadi lokasi puing pesawat.
Sekitar pukul 12.00 Wita, tim tiba di lokasi penemuan black box. Namun, tantangan utama baru muncul setelah perangkat itu ditemukan. Black box diketahui masih terpasang erat di bagian ekor pesawat yang tersangkut di pohon, sekitar lima meter dari permukaan tanah.
Situasi di lokasi disebut berisiko tinggi. Saat proses pengambilan dilakukan, posisi Achmad berada di titik yang di bawahnya terdapat jurang dengan kemiringan hampir 90 derajat. Kendala lain, tim disebut tidak membawa alat perkakas untuk membuka baut atau pengait black box.
Achmad menjelaskan dirinya mendapat tugas membuka black box yang masih menempel pada ekor pesawat dalam kondisi tergantung. Setelah berhasil dilepas, perangkat tersebut kemudian diserahkan kepada prajurit TNI.
Menurut Achmad, pengalamannya sebagai anggota Mapala pada divisi panjat tebing menjadi bekal penting saat menghadapi medan ekstrem dan cuaca yang kerap tidak kondusif selama operasi pencarian.

