Arab Saudi diperkirakan berpeluang menarik arus masuk dana asing hingga sekitar US$10 miliar setelah melakukan reformasi besar di pasar sahamnya. Kebijakan pelonggaran akses investor asing ini dinilai dapat memperkuat posisi Kerajaan di antara bursa negara berkembang global.
Otoritas Pasar Modal Arab Saudi (Capital Market Authority/CMA) mengumumkan kebijakan pembukaan pasar keuangan bagi seluruh investor asing pada 6 Januari 2026. Dalam kebijakan tersebut, CMA menghapus sejumlah pembatasan utama, termasuk skema Qualified Foreign Investor (QFI) yang sebelumnya mensyaratkan aset kelolaan minimum US$500 juta, serta menghapus mekanisme swap.
Kebijakan baru ini dijadwalkan mulai berlaku pada 1 Februari 2026. Tujuannya adalah meningkatkan arus investasi dan memperdalam likuiditas pasar, sekaligus sejalan dengan agenda Vision 2030 yang menargetkan diversifikasi ekonomi agar tidak bergantung pada pendapatan minyak.
Hamza Dweik, Head of Trading Saxo Bank untuk Timur Tengah dan Afrika Utara, memperkirakan reformasi tersebut dapat mendorong tambahan arus masuk dana asing sekitar US$9–10 miliar. Proyeksi itu melengkapi kepemilikan investor asing yang hingga kuartal III-2025 telah mencapai SR519 miliar atau setara US$138 miliar.
Peningkatan partisipasi investor global diperkirakan akan memperdalam likuiditas pasar saham Saudi yang memiliki kapitalisasi lebih dari SR3 triliun. Selain itu, bobot Arab Saudi dalam indeks pasar negara berkembang global diproyeksikan naik dari sekitar 3,2% menjadi 4,7%. Seiring meningkatnya permintaan, valuasi saham juga diperkirakan membaik.
Kapil Chadda, Partner Arthur D. Little Financial Services Practice, menilai pembukaan pasar bagi seluruh investor asing memungkinkan investor institusi dan ritel mengakses langsung saham perusahaan Saudi yang tercatat di bursa. Menurutnya, hal ini akan menyederhanakan akses investasi, meningkatkan likuiditas, dan mendorong volume transaksi seiring meluasnya basis investor global.
Dalam beberapa tahun terakhir, Arab Saudi juga memperkuat pasar modalnya melalui pembentukan exchange-traded fund (ETF) bersama mitra Asia seperti Jepang dan Hong Kong. Pada 2025, Kerajaan turut membuka peluang bagi investor asing untuk membeli saham perusahaan tercatat yang memiliki properti di Makkah dan Madinah, tanpa mengubah aturan kepemilikan tanah secara langsung.
Menurut laporan yang sama, CMA juga menghapus persyaratan aset dan skema QFI, menyederhanakan pembukaan rekening, serta menghilangkan perjanjian swap, terutama bagi penduduk dan mantan penduduk negara-negara Gulf Cooperation Council (GCC). Tony Hallside, CEO STP Partners, menyebut kebijakan ini sebagai tonggak penting dalam transformasi ekonomi Arab Saudi menuju pasar keuangan yang lebih terbuka, likuid, dan terintegrasi secara global.
Vijay Valecha, Chief Investment Officer Century Financial, turut menyampaikan optimisme dengan memperkirakan Arab Saudi akan mengalami lonjakan investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI) dalam waktu relatif cepat. Kebijakan ini dinilai mendukung salah satu pilar Vision 2030, yakni membangun lingkungan ekonomi yang mendorong pertumbuhan sektor swasta dan peningkatan FDI.
Dari sisi sektor, investor asing diperkirakan membidik bidang strategis yang sejalan dengan Vision 2030, mulai dari teknologi dan transformasi digital, energi terbarukan dan hidrogen hijau, hingga logistik, infrastruktur, pariwisata, kesehatan, dan hiburan. Sektor-sektor tersebut disebut menawarkan potensi pertumbuhan tinggi, didukung proyeksi kenaikan laba petrokimia hingga 74% dan sektor kesehatan sekitar 23%.
Perubahan aturan kepemilikan asing juga dinilai akan berdampak pada saham perbankan berkapitalisasi besar seperti Al Rajhi, SNB, dan Alinma, serta raksasa energi Saudi Aramco. Terbukanya akses langsung bagi dana internasional dipandang berpotensi menarik modal jangka panjang, terutama dengan dukungan agenda acara global besar seperti World Expo 2030 dan Piala Dunia FIFA 2034.
Dari sisi pasar, Arab Saudi bahkan diprediksi memasuki tren bullish sistemik pada 2026. Sehari setelah kebijakan diumumkan, seluruh indeks sektoral dilaporkan mencatat penguatan dengan mayoritas saham bergerak naik, mencerminkan respons positif pelaku pasar.
Analis memperkirakan volume perdagangan meningkat 5–10% pada 2026, dengan tambahan arus masuk dana asing hingga US$15 miliar. Namun, sejumlah tantangan tetap menjadi perhatian investor global, termasuk transparansi, tata kelola, batas kepemilikan asing, serta volatilitas yang dipengaruhi harga minyak. Para analis menekankan pentingnya kejelasan regulasi dan penguatan kemitraan lokal agar investor asing dapat memitigasi risiko dan memanfaatkan peluang pertumbuhan di pasar saham Arab Saudi yang tengah bertransformasi.

