Pembentukan International Finance Corporation (IFC) di Vietnam disebut bergerak bertahap dari arah kebijakan menuju persiapan yang lebih konkret. Sejumlah bank besar seperti Vietcombank, VietinBank, MB, TPBank, dan SHB dilaporkan berencana ikut serta dengan mendirikan badan hukum atau anak perusahaan yang beroperasi di dalam IFC.
Vietcombank, misalnya, disebut menyiapkan rencana mendirikan bank domestik yang sepenuhnya dimiliki dan beroperasi di dalam IFC, dengan fokus pada pembiayaan lintas batas serta perbankan investasi. Sementara itu, VietinBank disebut masih meneliti model yang sesuai dan mempertimbangkan peluang kolaborasi dengan ekosistem fintech dari mitranya, MUFG.
Sebelumnya, daftar 13 anggota pendiri dan investor strategis IFC di Kota Ho Chi Minh yang diumumkan pada Februari mencantumkan MB, TPBank, SHB, Nam A Bank, dan HDBank. Di sisi lain, bank asing UOB juga menyatakan tengah menjalankan rencana untuk meningkatkan modal dasarnya menjadi 10.000 miliar VND dan membangun kantor pusat di wilayah tersebut.
Namun, perhatian utama tidak hanya pada banyaknya bank yang berminat, melainkan pada peluang spesifik yang ditawarkan IFC. Profesor Madya Dr. Nguyen Huu Huan, Wakil Ketua Kantor Eksekutif Pusat Keuangan Internasional Vietnam di Kota Ho Chi Minh, menyampaikan bahwa prinsip inti desain IFC adalah “perlakuan adil terhadap semua anggota”, baik bank domestik maupun asing, serta tanpa membedakan ukuran. Artinya, seluruh anggota beroperasi dalam arena persaingan yang sama terkait aturan, standar, dan infrastruktur, sehingga kemampuan menghadirkan produk dan layanan menjadi penentu.
Dalam kerangka tersebut, kemampuan bank untuk memperluas operasi dinilai lebih bergantung pada kualitas layanan dan kapasitas implementasi ketimbang ukuran atau pangsa pasar yang sudah dimiliki. Bank kecil dan menengah, yang umumnya memiliki struktur lebih efisien dan pengambilan keputusan lebih cepat, dinilai berpotensi lebih mudah beradaptasi dengan tuntutan baru di IFC. Desain ini dipandang menciptakan kompetisi yang lebih transparan dan adil, dengan keunggulan bergeser dari skala ke efisiensi operasional dan inovasi.
Sejalan dengan itu, Nguyen Quang Huy, Direktur Eksekutif Fakultas Keuangan dan Perbankan Universitas Nguyen Trai, menilai partisipasi dalam IFC berarti bank harus menyesuaikan diri dengan standar operasional internasional. Dalam konteks ini, keunggulan kompetitif tidak lagi terutama ditentukan oleh ukuran atau laju pertumbuhan, melainkan reputasi, kapasitas manajemen, serta kemampuan mengendalikan risiko dalam jangka panjang.
Selain mengubah lanskap persaingan, IFC juga dipandang membuka peluang pengembangan yang lebih luas. Dr. Nguyen Huu Huan menyebut IFC dapat menjadi pintu gerbang bagi bank domestik untuk berekspansi ke pasar internasional secara lebih sistematis, ikut masuk lebih dalam ke rantai nilai keuangan global, mengakses langsung arus modal internasional, serta bekerja sama dengan lembaga keuangan asing, dana investasi, dan bank pembangunan.
Keuntungan yang disoroti mencakup arus modal yang lebih bebas di dalam IFC, disertai penerapan hukum dan standar internasional terkait akuntansi, manajemen risiko, penyelesaian sengketa, dan perlindungan investor. Dari sisi operasional, ini dipandang dapat memperkuat fondasi bank dalam menjalankan layanan berstandar global.
Bui Hai Duong, Direktur Divisi Perdagangan Mata Uang di Nam A Bank, menyatakan bahwa melalui IFC, bank dapat mengakses modal internasional dalam berbagai mata uang dengan biaya dan tenor yang lebih sesuai. Menurutnya, hal ini memungkinkan penyaluran kembali ke sektor prioritas seperti infrastruktur transportasi, energi, logistik, industri pengolahan dan manufaktur, serta inovasi. Ia juga menilai aliran modal melalui bank memiliki keunggulan dibanding investasi langsung atau modal anggaran dari sisi kecepatan, fleksibilitas, dan skalabilitas.
Salah satu fitur yang dianggap penting adalah mekanisme pengujian terkontrol (sandbox) di dalam IFC. Bui Hai Duong menyebut mekanisme ini memungkinkan penerapan model baru—seperti blockchain, mata uang kripto, atau pembayaran lintas batas—dalam lingkungan yang diawasi. Sandbox juga dinilai mendorong kolaborasi bank dengan perusahaan fintech: bank berperan pada modal, manajemen risiko, dan kepatuhan, sementara fintech berkontribusi pada teknologi dan inovasi, untuk menguji serta menyempurnakan model sesuai standar internasional.
Meski demikian, peluang tersebut datang bersamaan dengan tekanan transformasi. Nguyen Quang Huy menilai IFC beroperasi dalam lingkungan yang menekankan tata kelola, transparansi, dan disiplin pasar berstandar internasional, sehingga menuntut peningkatan kapasitas sistem perbankan. Konsekuensinya, bank perlu memperkuat teknologi, kemampuan manajemen, serta kualitas sumber daya manusia agar memenuhi persyaratan operasi di ekosistem baru.
Ia juga menilai dampak IFC tidak hanya berupa peluang bisnis, melainkan mendorong penyesuaian model operasional. Fokus pengembangan bank domestik diperkirakan bergeser bertahap dari model pertumbuhan yang sangat bergantung pada kredit menuju struktur yang lebih seimbang antara kredit dan jasa.
Secara keseluruhan, IFC disebut membuka ruang pengembangan baru bagi sistem perbankan Vietnam. Namun, peluang terbesar dinilai bukan semata pada keikutsertaan, melainkan pada kemampuan bank untuk bertransformasi—mulai dari memperdalam layanan keuangan, menghubungkan arus modal internasional dengan kebutuhan ekonomi domestik, hingga memperkuat kepatuhan terhadap standar tata kelola dan teknologi. Dalam pandangan sejumlah narasumber, IFC bukan jalan pintas, melainkan agenda jangka panjang yang menuntut pendekatan hati-hati dan terencana.