Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan posisi kas negara yang tersimpan di Bank Indonesia (BI) mencapai lebih dari Rp 400 triliun. Ia menyebut besarnya dana tersebut memungkinkan pemerintah menambah penempatan dana ke perbankan.
Purbaya mengatakan, berdasarkan laporan Direktur Jenderal Perbendaharaan Astera Primanto Bakti, dana yang mengendap di BI masih cukup besar untuk menyuntikkan tambahan Rp 100 triliun ke perbankan. Dengan tambahan itu, total dana yang ditempatkan pada himpunan bank milik negara (Himbara) dan Bank Jakarta disebut mencapai sekitar Rp 300 triliun.
Penambahan penempatan dana tersebut, menurut Purbaya, dilakukan setelah ia memantau pergerakan imbal hasil (yield) obligasi yang meningkat. Ia menilai kenaikan yield menjadi sinyal awal adanya tekanan likuiditas di sektor perbankan.
Purbaya menjelaskan, ketika yield obligasi bergerak naik, ia menilai perlu dilakukan pengecekan untuk memastikan kondisi likuiditas perbankan. Setelah melihat adanya kekurangan likuiditas pada bank, ia memutuskan menambah dana ke sistem.
Ia menyebut suntikan Rp 100 triliun itu telah disalurkan ke Himbara dan Bank DKI sekitar sepekan sebelum Hari Raya Idul Fitri 2026. Namun, Purbaya tidak merinci besaran dana yang diterima masing-masing bank.
Lebih lanjut, Purbaya menyampaikan pemerintah memantau indikator likuiditas, termasuk penambahan uang primer (M0) dan pergerakan yield obligasi. Menurutnya, penempatan dana di perbankan dapat mendorong bank membeli surat utang negara, yang pada akhirnya berpotensi membantu menekan kenaikan yield.