JAKARTA — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi bahan perdebatan di tengah tekanan ekonomi global dan keterbatasan anggaran negara. Meski demikian, sejumlah pengamat menilai program tersebut tetap penting sebagai intervensi sosial untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Pengamat kebijakan publik Fakhrido Susilo mengatakan dinamika ekonomi global tidak hanya dirasakan Indonesia, melainkan juga negara-negara lain. Ia mencontohkan India, Brasil, dan Amerika Serikat yang juga terdampak gejolak ekonomi dunia, namun tetap menjalankan program makan siang di sekolah.
“Ada banyak instrumen kebijakan yang bisa ditawarkan pemerintah untuk bisa memitigasi atau mengatasi dinamika ekonomi, tanpa harus mengorbankan MBG,” ujar Fakhrido, seperti dikutip Jumat (6/2/2026).
Menurut dia, MBG merupakan intervensi fundamental bagi masa depan bangsa. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, negara dinilai tetap memiliki tanggung jawab memastikan kebutuhan gizi anak terpenuhi sebagai fondasi pembangunan manusia dalam jangka panjang.
Fakhrido juga menyoroti kondisi sebagian orang tua di Indonesia yang harus bekerja lebih dari satu pekerjaan, misalnya menjadi buruh pada pagi hari dan pengemudi ojek daring pada sore hari. Situasi tersebut, kata dia, kerap membuat perhatian terhadap gizi anak terabaikan.
Dalam konteks itu, keberadaan MBG dinilai dapat membantu meringankan beban keluarga sekaligus menjaga kualitas asupan anak.

