BERITA TERKINI
Profil INRU: Bisnis Pulp-Kertas, Kinerja Kuartal I 2025, dan Perubahan Pengendali

Profil INRU: Bisnis Pulp-Kertas, Kinerja Kuartal I 2025, dan Perubahan Pengendali

PT Toba Pulp Lestari Tbk (INRU) kembali menjadi perhatian publik seiring ramainya pembahasan di media sosial terkait banjir bandang yang menerjang wilayah utara Pulau Sumatera. Peristiwa tersebut memunculkan pertanyaan masyarakat mengenai faktor penyebab banjir besar, termasuk sorotan terhadap aktivitas industri berbasis lahan di kawasan yang dinilai rentan bencana ekologis.

INRU termasuk perusahaan yang terseret dalam isu tersebut. Namun, berdasarkan laporan yang dirujuk dari Kontan.co.id, INRU membantah menjadi penyebab banjir bandang di Sumatera Utara. Wilayah Tapanuli dan sekitarnya disebut beberapa kali mengalami banjir besar, sehingga memicu perhatian publik terhadap pengelolaan hutan, tata ruang, dan aktivitas industri.

Berikut ringkasan profil INRU, mulai dari kegiatan usaha, jajaran manajemen, kinerja keuangan terbaru, hingga perubahan kepemilikan yang terjadi pada 2025.

Profil dan kegiatan usaha

Mengacu pada laman resmi perusahaan, PT Toba Pulp Lestari Tbk bergerak di industri pulp dan kertas, dengan fokus memproduksi bubur kertas berbahan dasar kayu eukaliptus. Perusahaan mengelola Hutan Tanaman Industri (HTI) sebagai sumber bahan baku, dengan konsesi sekitar 167.912 hektare di Sumatra Utara yang mencakup kawasan Aek Nauli, Habinsaran, Tapanuli Selatan, Aek Raja, hingga Tele.

Perusahaan berdiri pada 1983 dengan nama PT Inti Indorayon Utama dan berganti nama menjadi PT Toba Pulp Lestari pada 2001. Hingga pertengahan 2025, INRU tercatat sebagai emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan lebih dari 1,38 miliar lembar saham beredar. Dengan aset dan area operasional yang luas, perusahaan memasok pasar domestik maupun ekspor.

Jajaran direksi dan komisaris

Direksi INRU terdiri dari Sandeep Bhalla (Direktur Utama), Jandres Halomoan Silalahi (Direktur), Anwar Lawden, SH (Direktur), Monang Simatupang (Direktur), dan Niroshan Romesh Silva (Direktur). Seluruhnya tercatat tidak terafiliasi.

Dewan komisaris meliputi Ignatius Ari Djoko Purnomo (Komisaris Utama, tidak independen), serta Elisa Ganda Togu Manurung, Thomson Siagian, SH, dan Joni Supriyanto yang tercatat sebagai komisaris independen.

Kinerja keuangan kuartal I 2025

Berdasarkan ringkasan data BEI, pada kuartal I 2025 INRU membukukan pendapatan sebesar USD 17,01 juta, turun sekitar 11% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Tekanan biaya dan beban operasional yang besar membuat perusahaan kembali mencatat rugi bersih sebesar USD 3,63 juta, memburuk dibanding kerugian pada periode sebelumnya.

Dari sisi neraca, aset per Maret 2025 tercatat sekitar USD 455 juta, menurun dibanding akhir 2024. Posisi kas juga melemah dari sekitar USD 416 ribu menjadi USD 291 ribu. Secara umum, kinerja keuangan INRU masih berada dalam tekanan, ditandai pendapatan menurun, rugi bersih meningkat, serta aset dan likuiditas yang tergerus.

Perubahan kepemilikan dan isu terbaru

Memasuki pertengahan 2025, INRU mengalami perubahan besar dalam struktur kepemilikan. Saham perusahaan sempat disuspensi oleh BEI setelah terjadi lonjakan harga yang dinilai tidak wajar.

Mengacu pada informasi di laman BEI, Allied Hill Limited (AHL), perusahaan investasi berbasis Hong Kong, mengambil alih mayoritas saham INRU hingga 92,42% dan menjadi pengendali baru. Setelah transaksi tersebut, porsi saham publik tersisa sekitar 7,5%.

Pengendali baru kemudian menetapkan tender wajib bagi pemegang saham publik dengan harga penawaran Rp 593 per saham. Meski akuisisi disebut sebagai bagian dari strategi investasi dan pengembangan, rincian rencana bisnis maupun arah strategis di bawah AHL belum dipublikasikan secara mendalam.

Perubahan pengendali ini menandai fase baru bagi INRU dan berpotensi diikuti langkah restrukturisasi, perbaikan operasional, atau perubahan arah bisnis pada periode mendatang.