BERITA TERKINI
Produsen EV China Percepat Ekspansi Global di Tengah Perlambatan Pasar Domestik

Produsen EV China Percepat Ekspansi Global di Tengah Perlambatan Pasar Domestik

Shenzhen — Produsen kendaraan listrik (EV) Tiongkok terus melaju dengan target ekspansi ambisius menuju 2026, meski pasar domestik mulai menunjukkan tanda perlambatan. Melemahnya permintaan di dalam negeri dan persaingan yang kian ketat mendorong banyak perusahaan mengalihkan fokus ke pasar luar negeri untuk menjaga pertumbuhan.

Langkah itu mendapat angin segar dari meredanya ketegangan dagang antara Tiongkok dan Uni Eropa. Beijing dan Brussels pekan lalu mencapai kesepakatan untuk memperkenalkan harga minimum bagi EV buatan Tiongkok, yang akan menggantikan tarif Uni Eropa hingga 35 persen. Bagi eksportir, kebijakan ini dinilai menjadi keringanan yang datang pada saat yang tepat.

Teknologi jadi tumpuan diferensiasi

Di balik dorongan ekspansi tersebut, teknologi menjadi pusat strategi. Sejumlah produsen EV Tiongkok berlomba menonjolkan inovasi, mulai dari kecerdasan buatan (AI), pengemudian otonom, hingga konsep mobil terbang.

Pada pameran Aridge milik Xpeng di Guangzhou pekan lalu, perusahaan memamerkan berbagai gambaran masa depan mobilitas. Selain kendaraan konsep, ditampilkan pula mobil terbang yang masih menjalani pengujian dan disebut berpotensi diluncurkan mulai 2028.

Pameran itu juga menghadirkan kendaraan yang disebut “kapal induk pesawat darat”: kendaraan beroda enam dengan modul udara dua tempat duduk yang dapat dilepas dan disimpan di bagian belakang. Konsepnya memungkinkan pengguna berkendara jarak jauh, lalu menurunkan modul tersebut untuk penerbangan pribadi jarak pendek.

Kendaraan ini diperkirakan dibanderol sekitar 2 juta yuan (US$285.000). Xpeng menargetkan produksi massal dan pengiriman tahun ini. Perusahaan menyebut telah menerima sekitar 7.000 pra-pemesanan, termasuk 600 dari perusahaan-perusahaan di kawasan Teluk.

Ekspansi luar negeri makin agresif

Di pasar internasional, Xpeng meluncurkan sedan bertenaga AI baru di 36 negara, memanfaatkan pertumbuhan yang kuat yang didorong ekspor pada tahun lalu. Pada 2025, penjualan global perusahaan disebut meningkat lebih dari dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya, dengan laju pertumbuhan hampir lima kali lebih cepat daripada pemimpin pasar BYD.

Eropa menjadi salah satu wilayah dengan kinerja terbaik bagi Xpeng. Perusahaan ditopang produksi lokal di Austria yang membantu menghindari tarif Uni Eropa.

Gary Ng, ekonom senior di bank investasi Natixis, menilai EV Tiongkok masih berada pada posisi yang baik meski ada ketidakpastian regulasi di Eropa. Menurutnya, karena EV Tiongkok relatif hemat biaya dan memiliki teknologi baterai yang kuat, produk mereka tetap kompetitif di pasar Uni Eropa. Ia memperkirakan, meski pertumbuhan tidak secepat beberapa tahun lalu, masih terbuka peluang pertumbuhan setidaknya sekitar 20 persen pada 2026.

Pasar domestik melambat, perang harga menekan margin

Secara global, produsen EV Tiongkok disebut membentuk kembali industri. Tahun lalu, merek-merek Tiongkok mendominasi penjualan EV global, dengan BYD menyalip Tesla untuk pertama kalinya.

Namun di dalam negeri, situasinya lebih menantang. Pertumbuhan penjualan domestik BYD melambat menjadi 7,7 persen—laju terlemah dalam lima tahun—di tengah pasar yang semakin jenuh. Perang harga berkepanjangan sejak 2023 turut menekan margin, hingga otoritas Tiongkok memperingatkan soal persaingan yang berlebihan.

Prakiraan industri juga mengindikasikan tekanan berlanjut. Asosiasi Produsen Otomotif Tiongkok memperkirakan pasar secara keseluruhan hanya tumbuh satu persen tahun ini. Penjualan kendaraan energi baru diproyeksikan naik 15 persen, melambat dari tahun lalu saat penjualan melonjak 28 persen.

Bagi konsumen, harga bukan lagi satu-satunya pertimbangan. Sejumlah pembeli menekankan keselamatan, kepraktisan, dan keandalan. Seorang pemilik mobil mengatakan keselamatan menjadi perhatian utama setelah membaca laporan kasus kendaraan bertenaga baterai yang terbakar, disusul kenyamanan untuk perjalanan dan penghematan energi. Pembeli lain menyoroti daya tahan baterai, termasuk dampak perbedaan cuaca terhadap konsumsi daya serta kemudahan pengisian.

Investasi AI dan lokalisasi produksi

Seiring perubahan prioritas konsumen, pengamat menilai produsen perlu menyesuaikan strategi. Ng menekankan pentingnya melokalisasi produksi untuk menghindari tarif akibat faktor geopolitik, sekaligus memastikan rantai pasok tetap lancar. Ia juga menilai baterai akan tetap menjadi komponen inti performa EV, diikuti kemampuan mengintegrasikan sistem dengan AI untuk memberikan pengalaman yang lebih baik.

Pergeseran itu terlihat dari meningkatnya fokus investasi pada AI dan robotika. Xiaomi berjanji menginvestasikan setidaknya US$28,6 miliar untuk riset dan pengembangan dalam lima tahun ke depan, sementara Geely meluncurkan sistem penggerak cerdas terbarunya.

Xpeng juga berinvestasi besar pada chip AI Turing buatannya sendiri, yang diklaim tiga kali lebih kuat dibanding produk Nvidia. Ketua dan CEO Xpeng, He Xiaopeng, mengatakan chip yang dirancang khusus akan menentukan fase persaingan berikutnya. Menurutnya, perusahaan AI terkemuka kemungkinan akan menyesuaikan chip mereka sendiri karena chip milik sendiri dapat mencapai kinerja generasi berikutnya dengan teknologi generasi saat ini—bukan semata soal biaya, melainkan kemampuan.

Di tengah persaingan global yang semakin intens, para pemimpin industri menilai keberhasilan ekspor EV Tiongkok pada akhirnya akan ditentukan di luar negeri. Ketua Great Wall Motors, Wei Jianjun, menyatakan bahwa sebagai negara otomotif besar, Tiongkok perlu mulai melihat ke luar, ke dunia, dalam upayanya menjadi kekuatan otomotif.