BERLIN — Jerman didesak untuk memulangkan 1.236 ton cadangan emasnya yang saat ini disimpan di Amerika Serikat. Desakan itu muncul di tengah kekhawatiran di Uni Eropa terhadap kebijakan Presiden AS Donald Trump yang dinilai tidak dapat diprediksi.
Seruan tersebut disampaikan Marie-Agnes Strack-Zimmermann, anggota Partai Demokrat Bebas (FDP), dalam pernyataannya kepada Der Spiegel. Ia menilai pemulangan cadangan emas dapat mengurangi risiko strategis di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Menurut Strack-Zimmermann, penyimpanan emas Jerman di AS pernah relevan pada era Perang Dingin, namun dinilainya tidak lagi selaras dengan kondisi geopolitik saat ini. Ia juga menekankan bahwa “kepercayaan semata” pada “mitra transatlantik” tidak dapat menggantikan kedaulatan dalam kebijakan ekonomi dan keamanan.
Bundesbank diketahui menyimpan 1.236 ton emas—senilai sekitar USD178 miliar—di Federal Reserve AS di New York. Selama beberapa dekade, sebagian cadangan emas Jerman ditempatkan di luar negeri karena pertimbangan historis dan akses pasar.
Di sisi lain, harga emas dilaporkan melonjak dalam empat tahun terakhir dan naik hampir 70% pada 2025. Kenaikan tersebut dikaitkan dengan permintaan bank sentral, kekhawatiran inflasi, serta ketegangan geopolitik. Harga emas berjangka juga disebut mencapai rekor tertinggi pada pekan ini, melampaui USD4.860 per ons, di tengah ancaman tarif baru Trump terhadap negara-negara Eropa yang menentang rencana AS untuk mengakuisisi Greenland—yang kemudian dibatalkan.
Dalam perkembangan terkait, sebuah laporan media Denmark menyebutkan warga di kerajaan tersebut mengunduh aplikasi untuk membantu memboikot barang buatan Amerika di toko-toko, sebagai bentuk pelampiasan kemarahan terhadap kebijakan AS saat ini.
Strack-Zimmermann menilai penyimpanan sekitar 37% cadangan emas Jerman—lebih dari 1.230 ton—di New York tidak lagi dapat diterima pada situasi ketidakpastian global yang meningkat.

