VMware selama bertahun-tahun menjadi fondasi utama virtualisasi server di lingkungan enterprise. Produk seperti vSphere, vSAN, dan NSX banyak digunakan untuk membangun serta mengelola data center modern. Namun, arah kebijakan VMware mulai menjadi perhatian sejumlah perusahaan sejak diakuisisi Broadcom pada akhir 2023.
Akuisisi senilai sekitar US$61 miliar itu diikuti perubahan strategis, terutama pada model lisensi dan penawaran produk. Dampaknya tidak lagi dipandang sebatas isu teknis, melainkan ikut memengaruhi perencanaan biaya dan pengambilan keputusan bisnis.
Setelah akuisisi, VMware mengalihkan model lisensi dari skema permanen menjadi berlangganan. Perubahan ini membuat biaya virtualisasi dinilai lebih dinamis dan berpotensi sulit diprediksi dalam jangka panjang, terlebih dengan penerapan kebijakan bundling yang mewajibkan pembelian paket tertentu.
Kondisi tersebut mendorong manajemen perusahaan untuk meninjau ulang total biaya kepemilikan (total cost of ownership) infrastruktur TI. “Perubahan model lisensi ini membuat perusahaan perlu melihat virtualisasi bukan hanya dari sisi teknologi, tetapi juga dari perspektif risiko dan keberlanjutan biaya,” ujar seorang pengamat industri infrastruktur TI.
Situasi ini turut mendorong banyak perusahaan mengevaluasi kembali strategi virtualisasi mereka. Evaluasi tersebut tidak selalu berarti migrasi langsung, tetapi lebih pada upaya memahami opsi yang tersedia serta menjaga fleksibilitas di tengah perubahan kebijakan vendor.

